LABUANBAJOVOICE.COM – Jenazah relawan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Gregorius Agung Setyonugroho, dipulangkan ke Yogyakarta pada Senin (14/09/2026) setelah meninggal dunia saat menjalankan tugas kemanusiaan di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Jenazah Gregorius diberangkatkan melalui Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo, menggunakan pesawat menuju Surabaya. Dari Surabaya, jenazah selanjutnya direncanakan dibawa melalui jalur darat menuju Yogyakarta.

Salah satu relawan IAI, Candra, menyampaikan bahwa proses pemulangan jenazah dilakukan pada Senin, 14 September 2026.

“Rencananya dari Surabaya akan menggunakan jalur darat menuju Jogyakarta,” jelas Candra saat ditemui media ini di Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo.

Gregorius tiba di Labuan Bajo pada Sabtu (12/09/2026) untuk melakukan pemantauan dan penilaian kerusakan bangunan rumah warga terdampak gempa Flores bermagnitudo 7,7.

Dalam penugasan tersebut, Gregorius bersama tim IAI bertugas di Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat.

Pada Minggu (13/09/2026), sekitar pukul 16.20 WITA, Gregorius dibawa rekan-rekannya ke RSUD Komodo setelah ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Plt. Direktur RSUD Komodo, Paulus Ndarung, melaporkan kondisi Gregorius kepada jajaran pimpinan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui WhatsApp Group Koordinasi Pimpinan Mabar pada Minggu malam.

“Ia tiba dalam kondisi Death On Arrival atau sudah meninggal dunia,” jelas Paulus Ndarung sebagaimana dilaporkan kepada Bupati, Wakil Bupati, dan Pj. Sekda Manggarai Barat.

Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah Gregorius menjalani pemulasaran dan ditempatkan di ruang jenazah RSUD Komodo.

Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Pius Baut, menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya relawan IAI tersebut.

“Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat berduka yang dalam atas peristiwa meninggalnya relawan dari IAI ini,” jelas Pj. Sekda Pius Baut, Senin (14/09/2026) pagi.

Sesaat setelah menerima informasi meninggalnya Gregorius, Pius Baut bersama sejumlah pimpinan perangkat daerah mendatangi RSUD Komodo untuk melayat dan berkoordinasi dengan relawan IAI mengenai proses pemulangan jenazah.

Hasil koordinasi tersebut memutuskan agar jenazah segera diterbangkan ke Yogyakarta.

Gregorius diketahui selain berprofesi sebagai arsitek profesional, juga bekerja sebagai salah satu dosen pada Program Studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Candra mengungkapkan bahwa Gregorius memiliki riwayat hipertensi. Ia juga menyebut Gregorius bersama rekan-rekannya sempat begadang pada Sabtu malam untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan setelah tiba di Tondong Belang.

Namun, Candra menegaskan bahwa penyebab pasti meninggalnya Gregorius belum diketahui.

“Apakah meninggalnya karena hipertensi itu, kita tidak tahu. Yang tahu pasti pihak rumah sakit, yang sempat melakukan penanganan,” jelas Candra.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat turut menyampaikan apresiasi atas dedikasi Gregorius dan tim IAI yang telah membantu masyarakat terdampak gempa.

“Kami juga berterima kasih atas pengorbanan dari Almarhum bersama Tim IAI yang membantu menangani korban bencana gempa di Manggarai Barat,” ujar Pj Sekda Pius Baut.**