LABUANBAJOVOICE.COM – InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui unit usahanya, The Golo Mori, memperkuat posisinya sebagai destinasi masa depan bagi penyelenggaraan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) serta wisata leisure berbasis keberlanjutan.
Hal ini ditegaskan dalam ajang Diskusi Kolaborasi Bersama Media (Diskoria) yang digagas Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) di Labuan Bajo, Selasa (24/6/2025).
General Manager The Golo Mori, Wahyuaji Munarwiyanto, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa The Golo Mori kini didorong untuk menjadi Sustainable Marine-Based MICE Tourism Destination, melengkapi dua kawasan unggulan ITDC lainnya, yakni The Nusa Dua di Bali dan The Mandalika di NTB.
“Fokus utama kami adalah meningkatkan traffic kunjungan wisatawan, membangun awareness kawasan, mengoptimalkan aset yang sudah ada, dan menarik minat investor untuk berinvestasi ke The Golo Mori,” ungkap Wahyuaji.
ITDC turut berpartisipasi dalam Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) ke-11 yang digelar tahun ini sebagai sponsor resmi.
Dalam ajang yang diikuti oleh 529 buyer dari 45 negara dengan target transaksi mencapai Rp7,84 triliun, ITDC secara strategis mempromosikan tiga kawasan unggulannya: The Nusa Dua, The Mandalika, dan The Golo Mori.
Untuk The Golo Mori, promosi dilakukan secara khusus melalui kegiatan Post-Tour Labuan Bajo 2025 yang melibatkan kerja sama dengan berbagai mitra lokal seperti BPOLBF, Komodoshuttle, Dapur Tara, Laprima Hotel, East Pearl, Exotic Komodo, The Kitchen Garden, Ina’s Kitchen, dan Perum Bidadari.
“Melalui post-tour ini, kami ingin memperkenalkan langsung kepada para buyer potensi kawasan Golo Mori dan Labuan Bajo, sekaligus mendorong mereka menyusun dan memasarkan paket wisata di negara asal masing-masing,” tambah Wahyuaji.
ITDC berkomitmen menjadikan The Golo Mori sebagai kawasan wisata terpadu yang tidak hanya unggul secara infrastruktur dan keindahan alam, tetapi juga mendukung pariwisata berkelanjutan serta mendorong pemberdayaan UMKM lokal.
“Ke depan, kawasan ini akan terus dikembangkan dengan pendekatan ecosystem building, menciptakan pengalaman yang otentik dan inklusif bagi wisatawan maupun pelaku industri pariwisata,” tutup Wahyuaji.





Tinggalkan Balasan