LABUANBAJOVOICE.COM – Gelombang laut setinggi sekitar dua hingga tiga meter tidak menyurutkan langkah Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo menyalurkan bantuan bagi warga terdampak gempa bumi di wilayah kepulauan Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Imigrasi Labuan Bajo berupaya menjangkau masyarakat di wilayah kepulauan yang berpotensi mengalami keterisolasian setelah gempa bumi mengguncang Flores.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo Charles Christian Mathaus mengatakan, perjalanan menuju Pulau Longos pada Rabu (19/8/2026) menghadapi tantangan cuaca berupa angin kencang dan gelombang tinggi.

“Angin kencang, gelombang tinggi mencapai 2 meter dan diperkirakan bisa lebih,” kata Charles.

Kondisi laut tersebut membuat perjalanan tim penyalur bantuan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Kendati demikian, tim tetap melanjutkan perjalanan untuk memastikan bantuan kebutuhan pokok dapat diterima masyarakat terdampak.

Charles mengatakan, kondisi geografis wilayah kepulauan menjadi salah satu tantangan dalam distribusi bantuan pascabencana. Cuaca buruk dan akses transportasi laut dapat memperlambat mobilitas bantuan, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan kebutuhan pokok.

Karena itu, penyaluran bantuan ke wilayah yang aksesnya relatif sulit menjadi perhatian Imigrasi Labuan Bajo.

Sebelum bergerak menuju Pulau Longos, Imigrasi Labuan Bajo telah menyalurkan sekitar tiga ton beras kepada warga terdampak gempa di wilayah Sanonggoang.

Bantuan tersebut disalurkan langsung ke dua desa dan diterima oleh pemerintah desa setempat.

Dalam proses penyaluran, Charles bersama tim juga berdialog dengan kepala desa dan camat untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi masyarakat serta kebutuhan warga setelah bencana.

“Kami sudah menyampaikan dan membagikan, bahkan ada dua desa yang langsung kami turunkan bantuannya. Dan sudah diterima dengan baik,” ujarnya.

Penyaluran bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya lintas unsur untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak gempa tetap terpenuhi, termasuk warga yang tinggal di wilayah kepulauan.

Charles berharap bantuan berupa beras dan kebutuhan pokok lainnya dapat meringankan beban masyarakat yang masih menghadapi dampak gempa bumi.

Ia memastikan Imigrasi Labuan Bajo akan terus mengambil bagian dalam penanganan pascabencana selama bantuan masih dibutuhkan.

“Kami akan terus berusaha untuk membantu sedapat mungkin dengan apa yang kami miliki, sehingga warga-warga yang mungkin terisolir akibat gempa, terutama di pulau-pulau yang ada di Manggarai Barat, bisa mendapatkan bantuan tepat waktu,” kata Charles.

Menurut dia, perhatian khusus diperlukan bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau dengan akses transportasi terbatas. Distribusi bantuan tidak hanya berkaitan dengan jumlah logistik, tetapi juga memastikan bantuan benar-benar tiba di tangan masyarakat yang membutuhkan.

Gempa M7,7 Guncang Flores

Gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah sekitar Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB. BMKG mencatat episenter gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami.

Dampak gempa dirasakan di sejumlah wilayah Flores dan Nusa Tenggara Timur. Pascabencana, pemerintah bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, lembaga terkait, serta berbagai unsur masyarakat terus melakukan penanganan darurat dan pendistribusian bantuan.

BNPB pada 19 Agustus 2026 juga masih melaporkan proses penanganan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak gempa M7,7 Flores.

Di tengah kondisi tersebut, akses menuju wilayah kepulauan menjadi salah satu tantangan penting. Gelombang tinggi dan cuaca laut dapat memperlambat distribusi, sehingga keberanian untuk menjangkau daerah terpencil menjadi bagian penting dari upaya memastikan tidak ada warga terdampak yang luput dari bantuan.**