Sementara itu, empati mengajak generasi muda untuk memahami kebutuhan masyarakat, terutama kelompok yang membutuhkan perhatian lebih.
Di Manggarai Barat, semangat tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara pemuda, pemerintah desa, komunitas masyarakat, lembaga pendidikan, dan berbagai unsur lainnya.
Kolaborasi tidak harus selalu bergantung pada besarnya dukungan anggaran. Penguatan gotong royong, pemanfaatan sumber daya lokal, serta pengembangan inisiatif berbasis kebutuhan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kegiatan sosial.
Namun, keterlibatan masyarakat tetap perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan pelayanan publik dan memenuhi kebutuhan dasar warga.
Partisipasi masyarakat merupakan kekuatan pendukung pembangunan, bukan pengganti kewajiban pemerintah.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi kesempatan untuk memperkuat kesadaran bahwa pembangunan daerah membutuhkan kontribusi berbagai pihak.
Generasi muda diharapkan mampu mengembangkan kreativitas, menjaga persatuan, dan mengambil peran dalam menjawab persoalan sosial di lingkungan masing-masing.





Tinggalkan Balasan