LABUANBAJOVOICE.COM – Gelombang laut di sejumlah perairan sekitar Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, dan Selat Sape diprakirakan bervariasi pada periode 28–30 September 2026.
Berdasarkan prakiraan yang dikeluarkan BMKG, kondisi gelombang tertinggi diperkirakan terjadi di Selat Sape bagian selatan, dengan tinggi gelombang mencapai 2,0–2,5 meter pada 28 September 2026.
Kondisi tersebut masih berpotensi terjadi pada 29 September, dengan tinggi gelombang berkisar 1,4–2,5 meter. Pada 30 September, tinggi gelombang diprakirakan berada pada kisaran 1,1–1,9 meter.
Kondisi gelombang yang relatif tinggi juga diprakirakan terjadi di Perairan Taman Nasional Komodo.
Pada 28 September, tinggi gelombang di wilayah tersebut diprakirakan mencapai 2,0 meter. Kemudian pada 29 September berkisar 1,3–2,0 meter, dan pada 30 September berada pada kisaran 1,1–1,4 meter.
Gelombang Labuan Bajo Lebih Rendah
Berbeda dengan Taman Nasional Komodo dan Selat Sape bagian selatan, tinggi gelombang di Perairan Labuan Bajo diprakirakan lebih rendah selama periode yang sama.
Pada 28 September, tinggi gelombang diprakirakan berkisar 0,8–1,0 meter. Kondisi tersebut kemudian menurun menjadi 0,5–0,9 meter pada 29 September dan 0,5–0,6 meter pada 30 September 2026.
Sementara itu, di Selat Sape bagian utara, tinggi gelombang pada 28 September diprakirakan berada pada kisaran 0,9–1,4 meter.
Pada 29 September, tinggi gelombang diprakirakan berkisar 0,7–1,4 meter, kemudian turun menjadi 0,6–0,8 meter pada 30 September 2026.
Pengguna Jasa Laut Diminta Waspada
Kondisi gelombang tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di laut, terutama pengguna jasa transportasi laut, nelayan, dan operator kapal.
Mereka diimbau tetap waspada terhadap potensi gelombang sedang serta peningkatan kecepatan angin (gust) yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Selain tinggi gelombang dan angin, kondisi arus juga perlu menjadi perhatian bagi pelaku pelayaran di kawasan Kepulauan Taman Nasional Komodo.
Karakteristik perairan kepulauan tersebut memiliki arus yang cukup kuat. Karena itu, para nakhoda dan nelayan diimbau memperhatikan jadwal pasang surut sebelum melakukan aktivitas pelayaran.
Perubahan pasang surut dapat memengaruhi kecepatan dan arah arus. Kondisi tersebut berpotensi berubah secara mendadak dan dapat memengaruhi stabilitas kapal.
Dengan kondisi tersebut, pemantauan informasi cuaca dan laut secara berkala menjadi bagian penting sebelum melakukan aktivitas pelayaran, khususnya menuju wilayah perairan dengan gelombang yang diprakirakan lebih tinggi.**





Tinggalkan Balasan