LABUANBAJOVOICE.COM — Asisten Deputi Sistem Distribusi Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Muhamad Mawardi, menegaskan pentingnya penguatan sistem pangan berbasis potensi lokal dalam Kick Off Floratama Academy (FA) 2026 yang digelar BPOLBF, Senin (20/4/2026).

I a menilai program ini strategis untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi destinasi pariwisata.

Dalam perspektif pemerintah pusat, Floratama Academy 2026 bukan sekadar program pelatihan, melainkan instrumen penting untuk membangun kemandirian pangan di kawasan pariwisata super prioritas Labuan Bajo.

Mawardi menekankan bahwa potensi pangan lokal—baik dari sektor pertanian maupun kelautan—harus dioptimalkan sebagai kekuatan utama daerah.

“Kita perlu mengurangi ketergantungan pangan dari luar dengan membangun sistem pangan mandiri berbasis potensi lokal. Pasokan dari kebun maupun laut tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menjadi nilai tambah bagi destinasi dan daya tarik bagi wisatawan,” kata Mawardi dalam kegiatan kick off Floratama Academy 2026.

Menurut Mawardi, selama ini tantangan utama bukan hanya pada produksi, tetapi juga pada aspek distribusi, kualitas, hingga akses pasar.

Oleh karena itu, kata dia, pendekatan inkubasi yang diterapkan dalam Floratama Academy dinilai relevan untuk menjawab persoalan tersebut secara komprehensif.

“Floratama Academy 2026 ini menjadi langkah strategis karena tidak hanya meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan keterampilan, tetapi juga membuka akses pasar,” ujar Mawardi.

Ia menambahkan bahwa penguatan pelaku usaha pangan harus berjalan seiring dengan peningkatan standar, termasuk sertifikasi produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Melalui pendekatan inkubasi, kita mendorong petani dan nelayan agar semakin kuat, termasuk dalam hal sertifikasi produk sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar,” katanya.

Mawardi juga menyoroti pentingnya keterlibatan aktif seluruh pelaku di sektor pangan, mulai dari petani, peternak hingga nelayan, sebagai kunci keberhasilan program.

Ia berharap bahwa petani, peternak, dan nelayan turut berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan cita-cita ketahanan pangan dapat terwujud.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa ketahanan pangan yang kuat akan berdampak langsung pada keberlanjutan sektor pariwisata.

Ketahanan pangan yang tangguh juga, kata dia, akan mendukung sektor kepariwisataan dan menjadikan Labuan Bajo sebagai pasar pariwisata yang aktif, mandiri, dan berkembang secara sosial dan ekonomi.

Kick Off Floratama Academy 2026 yang diselenggarakan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menjadi momentum penting kolaborasi lintas sektor.

Program yang telah memasuki tahun keenam sejak diluncurkan pada 2021 ini difokuskan pada penguatan kapasitas pelaku usaha pangan lokal.

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, sebelumnya juga menyoroti tingginya ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah sebagai tantangan utama.

“Ketersediaan bahan pangan, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, masih menjadi tantangan, di mana ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah juga masih cukup tinggi,” ujar Andhy.

Ia menilai, keterhubungan antara produksi lokal dan kebutuhan industri pariwisata belum optimal, sehingga perlu intervensi program seperti Floratama Academy.

“Program ini dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha pangan lokal sekaligus mendorong hadirnya produk pangan yang berkualitas serta efisiensi dalam mendukung sektor pariwisata di Labuan Bajo,” kata Andhy.

Floratama Academy 2026 dijalankan melalui beberapa tahapan, dimulai dari Kick Off pada 20 April 2026 hingga evaluasi pada Agustus 2026. Proses pendaftaran dan kurasi berlangsung hingga 31 Mei 2026.

Pada tahap Bootcamp, sebanyak 30 peserta terbaik akan mendapatkan pendampingan langsung di lapangan (on farm) oleh tenaga ahli hortikultura.

Pendampingan ini difokuskan pada peningkatan kualitas produksi, praktik budidaya berkelanjutan, serta perluasan akses pasar.

Dari sudut pandang Mawardi, Floratama Academy 2026 merupakan model intervensi yang tepat dalam menjawab tantangan struktural sektor pangan di daerah pariwisata.

Program ini tidak hanya memperkuat sisi produksi, tetapi juga membangun konektivitas antara pelaku usaha lokal dan pasar wisata.**