LABUANBAJOVOICE.COM – Festival Golo Koe 2026 mencatatkan perputaran ekonomi nasional sebesar Rp22,95 miliar dan perputaran ekonomi di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar Rp18,01 miliar. Capaian tersebut menunjukkan potensi festival berbasis budaya dalam mendorong aktivitas ekonomi masyarakat serta pengembangan pariwisata Labuan Bajo dan Flores.
Temuan itu dipaparkan dalam rapat penyampaian Laporan Analisis Dampak Penyelenggaraan Festival Golo Koe 2026 yang berlangsung secara daring pada Senin (12/10/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan panitia Festival Golo Koe, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), dan Kementerian Pariwisata.
Analisis yang dilakukan Tim Strategi Event, Deputi Bidang Pengembangan penyelenggaraan kegiatan (event), Kementerian Pariwisata RI, mencakup dampak ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan sebagai bahan evaluasi penyelenggaraan festival pada masa mendatang.
Berdasarkan hasil analisis, Festival Golo Koe 2026 mencatat sekitar 45.000 pengunjung selama lima hari penyelenggaraan. Sebanyak 89 persen pengunjung merupakan penduduk lokal, sedangkan sisanya berasal dari wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara.
Pengunjung tercatat memiliki rata-rata masa tinggal selama 5,62 hari. Aktivitas kunjungan tersebut turut berkontribusi terhadap perputaran ekonomi nasional sebesar Rp22,95 miliar dan perputaran ekonomi NTT sebesar Rp18,01 miliar.
Dari sisi kontribusi terhadap perekonomian, festival ini menghasilkan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar Rp11,77 miliar. Sementara itu, kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT tercatat sebesar Rp9,04 miliar.
Hasil survei persepsi multipihak juga menempatkan pengelolaan dampak ekonomi Festival Golo Koe 2026 dalam kategori sangat baik, dengan skor 4,724 dari skala maksimal 5.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa festival budaya berpotensi menggerakkan aktivitas ekonomi melalui transaksi dan kebutuhan pengunjung selama berada di destinasi. Namun, besarnya manfaat bagi masyarakat juga berkaitan dengan sejauh mana aktivitas ekonomi tersebut menjangkau pelaku usaha lokal.
Dari aspek sosial budaya, Festival Golo Koe 2026 melibatkan 375 tenaga kerja lokal dan 883 pelaku seni budaya. Selain itu, sebanyak 173 unit tenant komersial berpartisipasi dalam festival tersebut.
Seluruh tenant komersial atau 100 persen di antaranya merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Keterlibatan tersebut memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk sekaligus berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi yang terbentuk selama festival.
Di sisi lain, kehadiran ratusan pelaku seni budaya memperkuat fungsi Festival Golo Koe sebagai ruang untuk menampilkan tradisi dan kekayaan budaya masyarakat Manggarai.
Festival Golo Koe merupakan salah satu agenda dalam Karisma Event Nusantara (KEN), yang mengangkat kekayaan budaya, tradisi, dan religiusitas masyarakat Manggarai sebagai daya tarik pariwisata.
Pada 2026, festival semula direncanakan berlangsung selama enam hari, yakni 10–15 Agustus. Namun, pelaksanaannya disesuaikan menjadi lima hari setelah puncak acara yang dijadwalkan pada 15 Agustus dibatalkan menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7.
Meski berlangsung dengan penyesuaian, festival tersebut tetap mencatatkan capaian ekonomi dan partisipasi masyarakat.
Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, mengatakan analisis dampak menjadi instrumen penting untuk menilai manfaat penyelenggaraan event secara menyeluruh sekaligus mengidentifikasi aspek yang perlu ditingkatkan.
“Festival berbasis budaya seperti Festival Golo Koe memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat bagi daerah, tidak hanya melalui aktivitas ekonomi dan kunjungan wisatawan, tetapi juga melalui pelestarian budaya serta keterlibatan masyarakat lokal,” kata Andy, Jum’at (16/10/2026).
Menurutnya, pengukuran dampak diperlukan agar penyelenggaraan event berikutnya memiliki perencanaan yang lebih terarah dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat serta destinasi pariwisata Labuan Bajo dan Flores.
Capaian ekonomi Festival Golo Koe 2026 menjadi salah satu indikator bahwa agenda budaya dapat berkontribusi terhadap pengembangan pariwisata daerah. Meski demikian, keberhasilan jangka panjang tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung atau besarnya perputaran ekonomi, tetapi juga dari keberlanjutan manfaat yang diterima masyarakat.
Karena itu, keterlibatan UMKM lokal, tenaga kerja, komunitas budaya, pemerintah, dan penyelenggara perlu terus diperkuat agar pertumbuhan pariwisata berjalan seiring dengan peningkatan peluang ekonomi masyarakat setempat.
Evaluasi berbasis data diharapkan menjadi landasan untuk meningkatkan kualitas Festival Golo Koe pada tahun-tahun mendatang, sehingga festival ini semakin memperkuat identitas budaya Manggarai dan daya tarik pariwisata Labuan Bajo serta Flores.**





Tinggalkan Balasan