LABUANBAJOVOICE.COM – Camino de Flores menjadi salah satu inisiatif untuk memperkuat pengembangan wisata religi Katolik di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui perjalanan yang menghubungkan pengalaman spiritual, kekayaan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.
Perjalanan ini dirangkai dengan Wolobobo Ngada Festival 2026 yang berlangsung pada 22–25 Oktober 2026 di Bajawa, Kabupaten Ngada.
Pada etape tengah yang dimulai dari Bajawa, peserta Camino de Flores dijadwalkan menempuh perjalanan sekitar 70 kilometer menuju Ende melalui wilayah Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende.
Perjalanan tersebut secara resmi dimulai pada Jumat (23/10/2026), dengan titik awal di Taman Rohani Maria Ratu Semesta Alam Wolowio.
Konsep perjalanan berjalan kaki ini dirancang tidak hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai kesempatan bagi peserta untuk melakukan refleksi spiritual sekaligus mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Flores.
Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, mengatakan perjalanan ini diharapkan menjadi kesempatan untuk mengenal diri sendiri sekaligus memahami kekayaan Flores secara lebih dekat.
“Melalui Camino de Flores, saya ingin menjadikan perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Sebuah kesempatan untuk mengenal diri sendiri dengan lebih dalam, sekaligus mengenal Flores dengan lebih dekat,” ujarnya.
Konsep Camino de Flores memadukan pengalaman spiritual dengan pengenalan tradisi, kearifan budaya, hubungan manusia dengan alam, serta kehidupan masyarakat di sepanjang rute perjalanan.
Melalui pendekatan tersebut, peserta diharapkan dapat memperoleh pengalaman yang lebih mendalam dibandingkan kunjungan wisata yang hanya berpusat pada satu lokasi.
Kampung-kampung yang dilalui, tradisi masyarakat, serta potensi alam dan budaya setempat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.
Dengan demikian, Camino de Flores diharapkan dapat memperkenalkan Flores melalui perspektif yang lebih luas, yakni sebagai wilayah yang memiliki kekayaan spiritual, budaya, dan alam yang saling berkaitan.
BPOLBF Dorong Pola Perjalanan Wisata Religi Flores
Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy MT Marpaung, menyampaikan bahwa Camino de Flores menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan pariwisata Flores melalui integrasi potensi alam, budaya, spiritualitas, dan kreativitas masyarakat.
Menurutnya, inisiatif ini sejalan dengan pengembangan Travel Pattern Wisata Religi Katolik Pulau Flores yang telah diluncurkan BPOLBF bersama keuskupan dan dinas pariwisata se-Pulau Flores pada September 2024.
Pola perjalanan tersebut dirancang untuk menghubungkan berbagai destinasi religi di Flores sehingga wisatawan memiliki pilihan perjalanan yang lebih luas.
“Camino de Flores menjadi salah satu momentum untuk menghidupkan pola perjalanan wisata religi di Pulau Flores melalui pengalaman yang memadukan refleksi spiritual, budaya, alam, dan interaksi dengan masyarakat,” ujarnya.
Melalui pengembangan pola perjalanan tersebut, wisatawan diharapkan tidak hanya mengunjungi satu destinasi, tetapi juga terdorong menjelajahi wilayah lain di Flores.
Pendekatan ini membuka peluang untuk memperkenalkan destinasi religi, kampung adat, tradisi lokal, serta potensi alam yang berada di sepanjang jalur perjalanan.
Salah satu harapan dari pengembangan Camino de Flores adalah memperluas pergerakan wisatawan yang selama ini cenderung terkonsentrasi di Labuan Bajo.
Andhy berharap inisiatif tersebut dapat membuka peluang agar manfaat ekonomi pariwisata dirasakan lebih luas oleh masyarakat di berbagai wilayah Flores.
Perluasan pola perjalanan wisata berpotensi menciptakan kesempatan bagi pelaku usaha lokal, termasuk penyedia akomodasi, jasa transportasi, pemandu wisata, pelaku kuliner, pengrajin, dan UMKM.
Interaksi wisatawan dengan masyarakat juga dapat memperluas pengenalan produk lokal serta tradisi yang menjadi identitas setiap wilayah.
Namun, manfaat ekonomi tersebut membutuhkan dukungan pengelolaan destinasi, kesiapan masyarakat, aksesibilitas, dan pelayanan wisata yang memadai agar perjalanan dapat memberikan dampak berkelanjutan.
Pengembangan wisata religi juga perlu memperhatikan nilai spiritual dan budaya masyarakat setempat sehingga aktivitas pariwisata tetap menghormati tradisi yang hidup di setiap wilayah.
Rangkaian Camino de Flores dengan Wolobobo Ngada Festival 2026 memperlihatkan upaya menghubungkan kegiatan budaya dengan pengembangan perjalanan wisata berbasis spiritualitas.
Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu, menyambut kehadiran Prof. Dr. Mari Elka Pangestu beserta rombongan Camino de Flores. Ia menilai momentum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi Ngada dan memperkuat pengembangan pariwisata serta ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada, Ivan Botha, menyampaikan bahwa penyelenggaraan festival diarahkan untuk melestarikan seni budaya, mengembangkan kreativitas generasi muda, mempromosikan produk unggulan daerah, serta memperkuat spiritualitas masyarakat.
Kekayaan budaya, produk kreatif, dan keramahan masyarakat menjadi bagian penting yang dapat melengkapi pengalaman wisatawan selama menjelajahi Flores.
Melalui festival, wisatawan juga memperoleh kesempatan untuk mengenal produk unggulan seperti kopi Bajawa, tenun ikat, dan kerajinan bambu.
Kombinasi perjalanan religi dan festival budaya diharapkan dapat memperkuat identitas pariwisata Flores sekaligus membuka ruang interaksi yang lebih dekat antara wisatawan dan masyarakat.
Camino de Flores membawa harapan agar pengembangan pariwisata Flores tidak hanya berorientasi pada kunjungan ke destinasi populer, tetapi juga memperhatikan potensi wilayah lain yang memiliki kekayaan spiritual, budaya, dan alam.
Melalui perjalanan lintas wilayah, wisatawan berkesempatan mengenal Flores secara lebih utuh, sementara masyarakat lokal berpeluang memperkenalkan tradisi dan produk unggulannya.
Sinergi antara pemerintah daerah, BPOLBF, lembaga keagamaan, komunitas, dan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam mengembangkan pola perjalanan tersebut.
Dengan perencanaan yang berkelanjutan, Camino de Flores diharapkan dapat memperkuat wisata religi Katolik di Pulau Flores sekaligus memperluas distribusi manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat di berbagai daerah.**





Tinggalkan Balasan