Ia menilai arah pengembangan destinasi wisata seharusnya berpijak pada dokumen perencanaan yang komprehensif melalui Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPARDA).
“Kenapa? Tidak ada panduannya. Kan harus dimulai dari RIPARDA. Apa yang harus kita lakukan, mana-mana objek wisata kita di Manggarai Barat supaya kita kembangkan dan ada perencanaan yang baik,” tegasnya.
Selain menyinggung absennya RIPARDA, Paskalis juga mengkritik keterlambatan pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) yang seharusnya menjadi motor penyusunan arah pembangunan pariwisata daerah.
Menurutnya, pembentukan Pokja seharusnya menjadi langkah awal untuk memetakan potensi wisata, menyusun prioritas pembangunan, hingga merancang strategi pengembangan destinasi secara menyeluruh.
“Menurut saya dinas sekarang ini sudah terlambat membentuk Pokja. Pokja inilah yang nanti bergerak merancang RIPARDA secara keseluruhan untuk Manggarai Barat,” ujarnya.
Politikus dari Daerah Pemilihan I itu mengingatkan bahwa tanpa perencanaan yang matang, ambisi menjadikan Manggarai Barat sebagai destinasi pariwisata premium hanya akan menjadi slogan tanpa arah.





Tinggalkan Balasan