Sebagian warga bahkan hanya mengandalkan terpal seadanya sebagai tempat berlindung.

“Pada saat kami hantarkan bantuan tersebut, kami melihat rumah warga berdampak, rumahnya rusak parah, dan kebanyakan mereka tidur diluar rumah atau diposko, dengan menggunakan terpal seadanya,” jelas Charles.

Kondisi tersebut semakin berat karena suhu malam hari yang dingin. Tim juga menemukan adanya ibu hamil dan anak-anak yang harus bertahan dalam kondisi pengungsian dengan fasilitas terbatas.

Selain kebutuhan material, Charles melihat persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni trauma yang dialami masyarakat setelah bencana.

“Ditambah cuaca malam dingin sekali, ada juga ibu-ibu hamil dan anak kecil, dan saya melihat ada trauma mendalam dari warga yang terdampak gempa.” ujarnya.

Bagi ALFI NTT, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya membutuhkan bantuan berupa bahan pangan dan perlengkapan, tetapi juga dukungan moral dan kepedulian terhadap kondisi psikologis masyarakat.

Di tengah proses penyaluran bantuan, tim ALFI NTT tidak hanya menyerahkan bantuan logistik. Mereka juga menyempatkan diri bertemu dan berbicara dengan masyarakat terdampak.