LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mencatat 914 rumah warga rusak akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pulau Flores pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026.

Data tersebut merupakan rekapitulasi sementara dampak gempa yang tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Manggarai Barat.

Kepala BPBD Manggarai Barat, Oktavianus Andi Bona, mengatakan gempa tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dan korban luka.

“Selain menyebabkan kerusakan bangunan, gempa juga mengakibatkan satu warga meninggal dunia dan tujuh orang mengalami luka-luka,” tuturnya pada Minggu (16/8/2026).

Berdasarkan laporan RSUD Komodo, korban meninggal dunia diketahui bernama Siti Hawa (84), warga Dusun Terang, Kecamatan Boleng.

Sementara itu, tujuh warga yang mengalami luka-luka telah dirujuk ke RSUD Komodo untuk mendapatkan perawatan medis.

Dari tujuh korban tersebut, dua orang telah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan. Sementara korban lainnya masih mendapatkan penanganan medis.

BPBD Manggarai Barat hingga Minggu masih melakukan pendataan dan verifikasi terhadap dampak gempa di berbagai wilayah.

481 Rumah Rusak Berat

Dari total 914 rumah warga yang terdampak, BPBD Manggarai Barat mencatat 481 rumah mengalami rusak berat, 202 rumah rusak sedang, dan 231 rumah rusak ringan.

Kecamatan Mbeliling menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan rumah terbanyak.

“Kecamatan Mbeliling menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kerusakan rumah terbanyak. Tercatat 227 rumah rusak, termasuk 119 rumah dengan kategori rusak berat,” bebernya.

Kerusakan cukup signifikan juga terjadi di Kecamatan Welak. Sebanyak 210 rumah dilaporkan mengalami kerusakan, dengan 103 rumah di antaranya masuk kategori rusak berat.

Sementara di Kecamatan Sano Nggoang, BPBD mencatat 135 rumah mengalami kerusakan, termasuk 91 rumah rusak berat.

Besarnya jumlah rumah terdampak menunjukkan bahwa gempa tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga menimbulkan kerusakan pada bangunan hunian di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai Barat.

Dampak gempa juga menyasar sejumlah fasilitas publik dan infrastruktur penting di Manggarai Barat.

Pada sektor kesehatan, sebanyak sembilan fasilitas kesehatan dilaporkan terdampak. Fasilitas tersebut mencakup RSUD Komodo, Puskesmas Waenakeng, Puskesmas Orong, serta sejumlah puskesmas pembantu dan poskesdes.

Sektor pendidikan juga mengalami dampak. BPBD mencatat 10 sekolah mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan hingga berat.

Sejumlah fasilitas pendidikan yang terdampak antara lain SMAN 1 Pacar, SMPN 2 Pacar, serta sejumlah sekolah dasar.

Selain fasilitas kesehatan dan pendidikan, kerusakan juga terjadi pada bangunan pemerintahan dan fasilitas layanan publik.

Sebanyak 11 bangunan perkantoran dan fasilitas layanan publik dilaporkan mengalami kerusakan. Di antaranya Kantor Bupati Manggarai Barat, Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD, dan Gedung DPRD Manggarai Barat.

Kerusakan infrastruktur umum turut menjadi perhatian BPBD Manggarai Barat.

Dua jembatan dilaporkan mengalami kerusakan berat, yakni Jembatan Seinaru di Macang Pacar dan Jembatan Tanah Hamil Semang di Kecamatan Welak.

Selain jembatan, dampak gempa juga tercatat pada empat instalasi atau kantor air minum, termasuk SPAM Wae Mese 2.

Sebanyak tujuh rumah ibadah juga terdampak. Sementara di sektor pariwisata, dua hotel, yakni Hotel Jayakarta dan Meruorah, dilaporkan mengalami dampak akibat gempa.

Kerusakan juga tercatat pada satu fasilitas pelelangan ikan dan satu terminal.

BPBD Manggarai Barat bersama TNI, Polri, serta tenaga medis masih melakukan penanganan di sejumlah wilayah yang terdampak gempa.

Petugas tidak hanya melakukan pendataan, tetapi juga melakukan evakuasi dan penanganan darurat terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan.

“Tim reaktif BPBD dikerahkan untuk melakukan pendataan kerusakan, evakuasi, serta penanganan darurat terhadap warga yang terdampak,” lanjut Bona.

BPBD menegaskan seluruh data kerusakan dan korban tersebut masih bersifat sementara.

Petugas masih melakukan pendataan serta verifikasi lapangan untuk memastikan jumlah korban dan tingkat kerusakan bangunan maupun fasilitas umum akibat gempa bumi.

Langkah verifikasi menjadi penting karena kondisi di sejumlah wilayah terdampak masih terus dipantau dan data dapat berubah seiring masuknya laporan dari lapangan.

Masyarakat Kabupaten Manggarai Barat juga diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Warga diminta mengikuti arahan petugas serta mengutamakan keselamatan apabila terjadi guncangan kembali.**