Warga, kata dia, secara sukarela mengumpulkan dana hingga mencapai lebih dari Rp40 juta untuk membeli material yang dibutuhkan.
“Seluruh dana kegiatan ini murni berasal dari masyarakat Kampung Mbala. Tidak ada bantuan dari pemerintah. Dana yang terkumpul mencapai lebih dari Rp40 juta dan digunakan untuk pengadaan material. Sementara tenaga kerja berasal dari masyarakat sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tingginya partisipasi warga menjadi bukti kuat bahwa budaya gotong royong masih hidup dan menjadi modal sosial penting dalam pembangunan desa.
Tidak hanya kaum laki-laki yang terlibat dalam pekerjaan fisik di lapangan, para ibu rumah tangga juga mengambil peran penting dengan menyiapkan kebutuhan konsumsi bagi para pekerja setiap hari.
“Semua ikut terlibat. Anak-anak muda bekerja di lapangan bersama para orang tua. Ibu-ibu membantu menyiapkan kebutuhan dapur dan konsumsi. Ini benar-benar kerja bersama masyarakat,” tambahnya.
Pembangunan jalan tersebut diharapkan dapat meningkatkan mobilitas warga sekaligus memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada akses jalan desa.





Tinggalkan Balasan