LABUANBAJOVOICE.COM – Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan sektor asuransi mendorong penguatan tata kelola risiko pariwisata di Labuan Bajo melalui forum diskusi terarah atau Focus Group Discussion (FGD), Selasa, 21 April 2026.
Kegiatan bertajuk “Pilot Project: Penguatan Tata Kelola Risiko untuk Membangun Pariwisata Berkualitas di Labuan Bajo” ini digelar di Golo Mori Convention Center, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.
FGD merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia melalui Deputi Pengembangan Pariwisata dan PT Jasaraharja Putera.
Mewakili Bupati Manggarai Barat, Sekretaris Daerah (Sekda) Fransiskus S. Sodo menegaskan posisi strategis Labuan Bajo sebagai destinasi internasional yang mencerminkan wajah Indonesia di mata dunia.
“Sebagai bagian dari komitmen bersama dalam mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, FGD ini menjadi ruang strategis untuk menyatukan perspektif, memperkuat koordinasi, serta merumuskan langkah konkret dalam membangun sistem pariwisata yang lebih tangguh di Labuan Bajo,” ungkap Fransiskus.
Ia menambahkan bahwa penguatan tata kelola risiko menjadi kunci agar pertumbuhan sektor pariwisata berjalan beriringan dengan peningkatan keselamatan dan kualitas layanan.
“Keselamatan pariwisata merupakan tanggung jawab bersama lintas sektor. Pengembangan ekosistem kepariwisataan, termasuk layanan asuransi harus menjadi bagian dari sistem pengelolaan risiko yang terintegrasi, sehingga Labuan Bajo tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga sebagai destinasi yang aman, terpercaya, dan berkelanjutan,” tambahnya.
Penguatan sistem ini dinilai mendesak. Berdasarkan indikator Quality Tourism (QT) 2025, Labuan Bajo mencatat nilai 4,33 (skala 1–7) untuk aspek manajemen krisis dan kebencanaan.
Di sisi lain, jumlah kecelakaan kapal wisata mencapai 18 kejadian sepanjang 2025—naik 28,57 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data tersebut menunjukkan perlunya sistem mitigasi risiko yang lebih komprehensif dan terintegrasi.
Upaya ini juga sejalan dengan arah kebijakan dalam RPJMN 2025–2029 dan amanat Undang-Undang Kepariwisataan yang menekankan pentingnya perlindungan dan keselamatan wisatawan, termasuk penyediaan asuransi untuk aktivitas berisiko tinggi.
Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kemenko Perekonomian, Dida Gardera, menekankan bahwa pembangunan pariwisata tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan.
“Jika berkaca secara global, kita menyadari masih terdapat kesenjangan dibandingkan negara lain. Namun hal ini menjadi peluang untuk terus berbenah, terutama dengan memperkuat kualitas destinasi melalui kolaborasi yang solid antar pemangku kepentingan,”kata Dida.
Menurutnya, pengalaman wisata yang aman dan nyaman menjadi faktor utama, mulai dari aksesibilitas, kebersihan, hingga keamanan aktivitas wisata.
“Dengan kolaborasi yang solid, Labuan Bajo dapat semakin dikenal sebagai destinasi super prioritas yang aman dan berkualitas,” ujar Dida.
Direktur Utama PT Jasaraharja Putera, Abdul Haris, menegaskan bahwa asuransi menjadi elemen penting dalam ekosistem pariwisata.
“Asuransi bukan sekadar pelengkap, tetapi merupakan bagian penting dalam membangun pariwisata yang aman dan nyaman,” jelas Haris
Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor akan memperkuat perlindungan bagi pelaku usaha, masyarakat, dan wisatawan.
“Melalui forum ini, kami ingin memastikan bahwa perlindungan risiko dalam setiap aktivitas pariwisata dapat terbangun secara terintegrasi melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” tutur Haris.
FGD yang dimoderatori oleh Fadjar Hutomo ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama antara PT Jasaraharja Putera dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
Hadir pula dalam kegiatan tersebut Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, Andhy MT Marpaung, bersama sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
FGD ini diharapkan menjadi fondasi awal dalam membangun sistem pariwisata yang lebih tangguh di Labuan Bajo, dengan fokus pada integrasi pengelolaan risiko, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan perlindungan wisatawan.
Dengan langkah ini, Labuan Bajo ditargetkan tidak hanya unggul dari sisi daya tarik alam, tetapi juga menjadi model destinasi yang aman, profesional, dan berkelanjutan di tingkat global.**






Tinggalkan Balasan