LABUANBAJOVOICE.COM – Panitia PSSI Cup II Manggarai Barat mengecam keras insiden kekerasan terhadap wasit utama Fred dalam pertandingan Black Crown kontra Komodo United yang berlangsung di Labuan Bajo, Jumat (4/9/2026).

Sikap tersebut disampaikan Panitia PSSI Cup II Manggarai Barat dalam konferensi pers pada Sabtu (5/9/2026), sebagai bentuk keterbukaan sekaligus pertanggungjawaban atas insiden yang terjadi setelah pertandingan.

Konferensi pers tersebut dihadiri Ketua PSSI Manggarai Barat Marianus Yono Jehanu, Ketua Umum Panitia PSSI Cup II Manggarai Barat Ahyar Abadi, Ketua Harian Panitia PSSI Rofinus Edison Risal, serta jajaran pengurus dan kepanitiaan.

Dalam keterangannya, Risal atas nama kepanitiaan menyampaikan permohonan maaf kepada korban, keluarga korban, organisasi perwasitan, peserta, penonton, masyarakat, dan seluruh publik sepak bola.

Ia menilai tindakan kekerasan tersebut telah mencederai nilai sportivitas dan fair play dalam kompetisi.

“Bagi kami, apa pun hasil pertandingan dan apa pun keputusan yang diambil oleh perangkat pertandingan, tindakan kekerasan bukanlah bagian dari sportivitas sepak bola dan tidak dapat dibenarkan,” demikian Risal menyampaikan dalam konferensi pers.

Ia menjelaskan, laga Black Crown kontra Komodo United merupakan pertandingan tambahan waktu 2 x 15 menit. Pertandingan sebelumnya ditunda karena waktu pertandingan sudah malam.

Pada awal laga tambahan waktu, pertandingan disebut berlangsung normal. Situasi kemudian berubah setelah Black Crown mencetak gol sekitar menit ke-97.

Gol tersebut membuat tensi pertandingan meningkat. Pertandingan berlanjut hingga sekitar menit ke-110 sebelum wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Tidak lama berselang, sekitar menit ke-111, pelatih Komodo United masuk ke lapangan.

Awalnya, kata Risal, panitia menduga pelatih tersebut hendak menemui wasit dan bersalaman sebagaimana lazim dilakukan setelah pertandingan.

Namun, menurut Risal, situasi kemudian berubah ketika pelatih tersebut melakukan tindakan pemukulan terhadap wasit utama Kaka Fred.

“Panitia sangat menyesalkan bahwa kejadian tersebut terjadi dalam rangkaian pelaksanaan PSSI Cup,” ujarnya.

Sesaat setelah kejadian, panitia bersama personel keamanan dari Polri mengambil langkah pengamanan untuk mencegah situasi berkembang lebih jauh.

Menurutnya, panitia juga memberikan pertolongan awal kepada wasit yang menjadi korban sebelum membawanya ke Siloam Hospitals Labuan Bajo untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Setelah itu, korban diarahkan ke Puskesmas Labuan Bajo untuk pemeriksaan serta keperluan pengambilan visum.

Panitia kemudian bersama korban dan pihak keluarga mendatangi SPKT Polres Manggarai Barat untuk membuat laporan resmi.

Laporan tersebut, menurut dia, telah diterima pihak SPKT Polres Manggarai Barat. Selanjutnya, proses penanganan diserahkan kepada pihak berwenang sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

Panitia juga menyampaikan bahwa mereka telah mengunjungi Fred pada Sabtu pagi (5/9/2026).

“Puji Tuhan kondisi beliau perlahan membaik,” ungkap Risal.

Ia juga menegaskan mendorong agar dugaan kekerasan terhadap wasit diproses melalui mekanisme hukum.

“Panitia mendorong agar insiden ini diproses sesuai dengan mekanisme hukum yang berlaku. Kami menghormati proses hukum dan menyerahkan penanganan aspek pidana kepada pihak kepolisian,” tegasnya.

Selain proses hukum, panitia juga meminta ASKAB memberikan sanksi administratif yang setimpal terhadap pihak yang terlibat sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.

Ia menambahkan, panitia turut meminta ASKAB mempertimbangkan tindakan atau sanksi terhadap Komodo United sebagai klub yang menaungi pihak yang diduga melakukan tindakan tersebut, apabila hasil pemeriksaan dan ketentuan organisasi memberikan dasar untuk menjatuhkan sanksi.

Menurutnya, sanksi organisasi diperlukan untuk menjaga disiplin, marwah, dan integritas kompetisi.

“Kalah atau menang dalam sebuah pertandingan adalah bagian dari olahraga, tetapi kekerasan tidak pernah menjadi bagian dari sportivitas,” tegas Risal.

Panitia berkomitmen melakukan evaluasi serta memperkuat aspek keamanan dan pengawasan selama kompetisi. Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah terulangnya insiden serupa.**