LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca maritim terbaru untuk wilayah Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, hingga Selat Sape yang berlaku pada 3–5 Mei 2026.

Dalam rilis yang diterbitkan BMKG mengungkapkan, kondisi gelombang di perairan Labuan Bajo cenderung relatif tenang, namun wilayah perairan Komodo dan sebagian Selat Sape masih menunjukkan potensi gelombang sedang yang perlu diwaspadai pelaku transportasi laut dan nelayan.

Berdasarkan data BMKG, tinggi gelombang di perairan Labuan Bajo pada 3 Mei 2026 berkisar antara 0,6 hingga 0,7 meter. Kondisi ini diperkirakan menurun pada 4 Mei menjadi 0,3 hingga 0,7 meter, dan kembali relatif stabil pada 5 Mei di kisaran 0,3 hingga 0,4 meter.

Kondisi tersebut dinilai cukup aman untuk aktivitas pelayaran skala kecil hingga menengah, meski tetap memerlukan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca mendadak.

Berbeda dengan Labuan Bajo, perairan di kawasan Taman Nasional Komodo menunjukkan tinggi gelombang yang lebih tinggi, yakni berkisar 1,1 hingga 1,3 meter pada 3 Mei, meningkat menjadi 1,2 hingga 1,4 meter pada 4 Mei, dan berada di kisaran 0,9 hingga 1,4 meter pada 5 Mei.

Sementara itu, di Selat Sape bagian utara, gelombang berkisar antara 0,6 hingga 0,8 meter pada 3 Mei, meningkat menjadi 0,6 hingga 0,9 meter pada 4 Mei, dan sedikit menurun pada 5 Mei menjadi 0,5 hingga 0,7 meter.

Adapun di Selat Sape bagian selatan, tinggi gelombang tercatat lebih tinggi, yakni 1,2 hingga 1,6 meter pada 3 Mei, meningkat menjadi 1,3 hingga 1,7 meter pada 4 Mei, dan berkisar 1,1 hingga 1,5 meter pada 5 Mei.

BMKG mengingatkan seluruh pengguna jasa transportasi laut, nelayan, serta operator kapal untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang sedang dan peningkatan kecepatan angin secara tiba-tiba.

“Dihimbau kepada para pengguna jasa transportasi laut, nelayan, dan operator kapal untuk tetap waspada terhadap potensi gelombang sedang serta peningkatan kecepatan angin (gust) yang dapat terjadi sewaktu-waktu.” tulis rilis BMKG, Sabtu (2/5/2026).

Selain itu, karakteristik arus laut di kawasan kepulauan Komodo juga menjadi perhatian khusus, terutama terkait perubahan pasang surut air laut yang dapat memengaruhi stabilitas kapal.

“Mengingat karakteristik Perairan Kepulauan Taman Nasional yang memiliki arus cukup kuat, para nakhoda dan nelayan dihimbau untuk memperhatikan Jadwal Pasang Surut yang dapat menyebabkan perubahan kecepatan serta arah arus secara mendadak dan berisiko mempengaruhi stabilitas kapal.” tulis BMKG.

Dengan meningkatnya aktivitas wisata bahari di Labuan Bajo dan kawasan Komodo, prakiraan cuaca maritim menjadi acuan penting bagi keselamatan pelayaran.

Kondisi gelombang yang fluktuatif di beberapa titik perairan menunjukkan perlunya perencanaan perjalanan laut yang matang, termasuk pemantauan informasi cuaca terkini dari BMKG.**