Fatinci juga mengungkapkan bahwa panen ini sebenarnya dipercepat, karena menurut kelompok, ikan lele memiliki sifat saling memakan sesama jenisnya (kanibalisme).

Menurut penjelasan kelompok, saat pemantauan langsung sebelumnya, ditemukan sejumlah ikan lele yang hanya tersisa kepala, ada yang tinggal ekor, bahkan ada yang hilang kepala.

Meski demikian, Fatinci menegaskan bahwa usaha budidaya lele tetap sangat menjanjikan secara ekonomi.

“Usaha ikan lele ini sebenarnya untung besar kalau dikelola dengan serius, modal awalnya saja yang cukup besar,” ujarnya.

Ia juga berharap pada tahun 2026 ini, akan ada tambahan program serupa dari Kementerian, mengingat keberhasilan program budidaya ini dalam tiga tahun terakhir.

Keberlanjutan program tersebut diharapkan semakin memperkuat sektor perikanan budidaya Manggarai Barat sebagai penopang baru ekonomi daerah dan ketahanan pangan lokal.**