“Pada awal program, kelompok ini menebar sekitar 16 ribu bibit ikan lele, dan masing-masing bioflok terisi sekitar 3.500 bibit ikan,” ujarnya.

Menurut Fatinci, budidaya lele sistem bioflok ini menerapkan siklus panen setiap tiga bulan sekali. Berdasarkan keterangan kelompok, satu kolam bioflok menghasilkan hampir 300 kilogram ikan lele dengan nilai pendapatan sekitar Rp10 juta lebih per kolam.

Dengan empat kolam yang dipanen dalam panen perdana ini, total nilai produksi diperkirakan mencapai sekitar Rp40 juta.

“Satu kolam bioflok hampir 300-an kilogram. Total empat panen dari enam bioflok yang ada.
Harga jual ikan lele saat ini berada pada kisaran Rp50.000 per kilogram, sehingga satu kolam diperkirakan menghasilkan omzet minimal Rp10 juta,” jelasnya.

Fatinci menjelaskan bahwa program budidaya lele ini merupakan bantuan langsung dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun anggaran 2025, dengan nilai paket bantuan mencapai Rp300 juta per kelompok.

“Total terdapat dua kelompok penerima bantuan di Manggarai Barat, yakni di Wae Kelambu dan Dalong, Desa Nggorang,” kata Kepala Dinas KPP Manggarai Barat tersebut.