LABUANBAJOVOICE.COM – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Prof. Mahfud MD menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto mencopot Dadan Hindayana sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) merupakan langkah yang tepat dan telah lama dinantikan berbagai kalangan.
Menurut Mahfud, kritik terhadap kepemimpinan Dadan di BGN sebenarnya sudah muncul sejak lembaga tersebut mulai beroperasi.
“Bagus. Saya kira, enggak begini, orang memprotes pencopotan Dadan Hindayana itu kan sudah lama,” ujar Mahfud MD dikutip dari reels facebook Kompas, Kamis (4/6/2026).
Mahfud menilai persoalan utama bukan terletak pada kapasitas akademik Dadan, melainkan pada pemahamannya terhadap tata kelola pemerintahan dan birokrasi negara.
“Saya kira tidak sampai dua bulan BGN itu terbentuk, itu Dadan Hindayana sudah kelihatan hanya ngerti ilmunya, ilmu bidang apa serangga, tetapi tidak ngerti birokrasi pemerintahan, tidak ngerti hukum anggaran dan sebagainya, sehingga kita semua protes. Tidak ngerti teknokrasi, ya tidak paham teknokrasi dia,” jelasnya.
Ia menegaskan kritik terhadap penunjukan Dadan sebagai Kepala BGN telah disampaikan sejak lama. Menurut Mahfud, keputusan Presiden Prabowo mengganti Dadan menunjukkan adanya respons terhadap berbagai masukan publik.
“Sehingga kita sudah lama protes, baru sekarang dikabulkan oleh Presiden. Dan ternyata di kantornya ada masalah korupsi yang didugakan oleh Kejaksaan. Ya toh kan? Kan saya sudah tiga bulan lalu sudah mengatakan itu harus diperiksa,” tegasnya.
Mahfud juga menyoroti pengelolaan anggaran di lingkungan BGN yang sebelumnya menjadi sorotan masyarakat karena dinilai kurang transparan.
“Anggaran sekian, dipermasalahkan oleh masyarakat, kok tidak ada laporan pertanggungjawabannya kepada masyarakat, tidak dibantah bahwa itu salah atau benar gitu. Nah sekarang meledak,” tambah Mahfud MD.
Dalam pandangannya, langkah pergantian pimpinan BGN menjadi indikasi bahwa Presiden Prabowo mulai lebih responsif terhadap berbagai kritik dan tuntutan publik.
“Jadi intinya apa? Pak Prabowo sekarang mulai responsif terhadap tuntutan masyarakat,” ungkap mantan calon wakil presiden tersebut.
Mahfud mencontohkan perubahan sikap Presiden Prabowo yang dinilai lebih memperhatikan masukan masyarakat, termasuk dalam hal penyampaian pidato kenegaraan.
“Satu, kalau berpidato jangan banyak berimprovisasi, karena dari improvisasi pidatonya itu selalu menimbulkan masalah. Nah kemarin pidato Hari Kesaktian Pancasila kan baca teks. Nah aman kan, enggak ada komentar jelek. Lalu responsif lagi ketika Dadan Hindayana harus diganti,” ujarnya.
Meski mengapresiasi keputusan tersebut, Mahfud berharap pergantian Dadan tidak sekadar menjadi langkah politis tanpa penyelesaian substansi persoalan yang ada.
“Tapi mudah-mudahan bukan hanya manuver, lalu diganti di sini ditempatkan di sana lagi atau besok dipanggil lagi gitu, padahal itu bermasalah,” ujarnya.
Sementara terkait penunjukan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala BGN yang baru, Mahfud memilih belum memberikan penilaian.
“Engak tahu saya, saya enggak bicara orang, karena Bu Nani belum bisa dinilai sekarang,” tutupnya.
Pergantian pucuk pimpinan BGN terjadi di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap tata kelola program gizi nasional serta pengawasan penggunaan anggaran negara.
Pemerintah diharapkan dapat memastikan transisi kepemimpinan berjalan efektif demi menjaga keberlanjutan program strategis yang menyentuh kebutuhan masyarakat luas.**





Tinggalkan Balasan