Berdasarkan pemodelan BMKG, wilayah Manggarai Barat terindikasi memiliki konsentrasi partikel halus PM2.5 pada kisaran 10–30 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Selain itu, pemodelan aerosol optical depth (AOD) menunjukkan nilai berkisar 0,1–0,3. Nilai tersebut mengindikasikan keberadaan aerosol di atmosfer sekaligus memberikan gambaran mengenai potensi sebarannya.
Meski demikian, Maria menegaskan bahwa kedua informasi tersebut merupakan hasil pemodelan, bukan hasil pengukuran langsung kualitas udara di permukaan Manggarai Barat.
Perbedaan ini penting dipahami agar masyarakat tidak langsung menyimpulkan bahwa kondisi udara berkabut yang terlihat saat ini merupakan akibat pencemaran asap kebakaran hutan.
Partikel yang berada di atmosfer dapat berasal dari berbagai sumber, mulai dari debu, asap kendaraan bermotor, kebakaran hutan dan lahan, hingga garam laut yang terbawa angin.
Dengan demikian, keberadaan partikulat dalam pemodelan tidak secara otomatis membuktikan adanya pencemaran udara akibat kebakaran hutan.





Tinggalkan Balasan