LABUANBAJOVOICE.COM – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat bersama Keuskupan Labuan Bajo resmi meluncurkan Festival Golo Koe (FGK) 2026 bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di kawasan Pantai Gorontalo, Labuan Bajo, Kamis, 4 Juni 2026.
Peluncuran festival yang memasuki tahun kelima itu tidak sekadar menjadi agenda budaya dan pariwisata, tetapi juga momentum memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi krisis lingkungan yang semakin nyata.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi, Wakil Bupati dr. Yulianus Weng, Uskup Keuskupan Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus, Vikaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo Romo Rikardus Manggu, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah Fransiskus Sales Sodo, pimpinan instansi vertikal, BUMN dan BUMD, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi perempuan, hingga masyarakat umum.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini dirangkaikan dengan berbagai aksi nyata, mulai dari pelepasan burung merpati, pembersihan sampah di kawasan pesisir Pantai Gorontalo, hingga penanaman pohon kelapa sebagai simbol komitmen menjaga kelestarian lingkungan.
Pada kesempatan itu, Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak lagi bisa dipandang sebagai isu masa depan, melainkan tantangan yang sudah dirasakan saat ini.
“Kita tidak bisa lagi menjadi penonton pasif di tengah perubahan alam yang kian mengkhawatirkan. Bumi kita sedang terluka, dan saat inilah waktunya bagi kita untuk mengambil langkah konkrit, sekecil apa pun itu, demi menyelamatkan masa depan generasi yang akan datang,” tegas Bupati Endi.
Menurutnya, tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, Saatnya Bekerja untuk Iklim! dan kampanye global #NowForClimate, harus menjadi pengingat bahwa dunia sedang menghadapi tiga ancaman besar sekaligus atau Triple Planetary Crisis, yakni perubahan iklim ekstrem, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi yang semakin tidak terkendali.
Sebagai destinasi pariwisata super prioritas nasional, Labuan Bajo dinilai sangat rentan terhadap dampak ketiga krisis tersebut.
“Jika kita abai, keindahan alam bawah laut kita akan pudar, hutan-hutan kita akan gundul, dan sampah akan menenggelamkan pesona daerah ini,” ujarnya.
Sementara, Uskup Keuskupan Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dalam kesempatan yang sama mengingatkan bahwa masyarakat saat ini tidak hanya menghadapi perubahan iklim, tetapi telah memasuki fase yang oleh banyak ahli disebut sebagai kekacauan iklim (climate chaos).
“Kekacauan iklim ini bukanlah sebuah pengalaman yang ada terlalu jauh dari kita, tetapi sudah menjadi pengalaman kita setiap hari melalui kejutan-kejutan dalam bentuk bencana yang tidak dapat kita prediksi, melalui banjir, longsor, dan bentuk bencana lainnya,” jelas Uskup Regus.
Selain krisis iklim, ia juga menyoroti ancaman kelangkaan ekologis (ecological scarcity), yakni kondisi ketika daya dukung bumi semakin terbatas dalam memenuhi kebutuhan manusia.
Mengacu pada ensiklik Laudato Si’ yang diwariskan Paus Fransiskus, Uskup Regus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan pertobatan ekologis melalui perubahan perilaku yang nyata.
Menurutnya, pertobatan ekologis harus diwujudkan dalam tiga tingkatan sekaligus, yakni tingkat personal dalam keluarga, tingkat komunitas melalui kolaborasi lintas kelompok dan lembaga, serta tingkat struktural melalui kebijakan yang berpihak pada perlindungan lingkungan hidup.
Festival Golo Koe 2026 mengusung tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Ciptaan” dengan tagline “Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi.”
Bupati Endi menjelaskan bahwa penyatuan peluncuran festival dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia mencerminkan satu semangat yang sama, yakni menjaga keberlanjutan bumi untuk generasi mendatang.
“Festival Golo Koe bukan sekadar pesta budaya atau ajang pariwisata biasa. Festival ini adalah sebuah ziarah—perjalanan suci bersama seluruh umat dan masyarakat, lintas agama dan latar belakang, untuk bersinergi menjaga kelestarian alam sebagai ciptaan Tuhan yang wajib dijaga kesuciannya,” papar Bupati.
Selama empat tahun pelaksanaan sebelumnya, Festival Golo Koe dinilai berhasil menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Berbagai produk lokal seperti tenun ikat, kuliner khas, dan kerajinan tangan memperoleh ruang promosi yang luas, sementara sektor perhotelan, restoran, transportasi, pertanian, dan perikanan turut merasakan dampak ekonomi yang signifikan.
Festival tersebut juga telah memperoleh pengakuan nasional sebagai salah satu dari 10 festival unggulan dalam Kalender Event Nasional dan menjadi satu-satunya festival dari luar Jawa dan Bali yang masuk dalam daftar tersebut.
Dalam arahannya kepada panitia penyelenggara, Bupati Endi menekankan tiga prinsip utama yang harus menjadi fondasi pelaksanaan Festival Golo Koe 2026.
Pertama, menjaga nilai spiritualitas agar festival tetap menjadi ruang refleksi dan transformasi iman.
Kedua, memastikan keberpihakan kepada pelaku ekonomi lokal, khususnya UMKM, petani, dan nelayan.
Ketiga, menerapkan konsep Green Festival dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengelola sampah secara bertanggung jawab, serta menerapkan prinsip zero waste dalam seluruh rangkaian kegiatan.
“Tantangan lingkungan yang mahabesar ini tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Mari kita perkuat kolaborasi, sekat-sekat ego sektoral harus kita runtuhkan. Kita harus memobilisasi aksi nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Sementara itu, Uskup Regus menyampaikan apresiasi atas kolaborasi berkelanjutan yang terjalin antara Keuskupan Labuan Bajo dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dalam menyelenggarakan Festival Golo Koe.
“Festival Golo Koe ini dilandasi oleh semangat kebersamaan dan didukung oleh semangat kolaborasi kita bersama,” ujarnya.
Ia berharap Labuan Bajo ke depan tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga menjadi ruang transformasi spiritual, sosial, dan ekonomi yang mendukung keberlanjutan kehidupan bersama.
Peluncuran Festival Golo Koe 2026 sekaligus menjadi penanda dimulainya berbagai gerakan kolektif untuk mewujudkan komitmen “Saatnya Bekerja untuk Iklim” melalui tindakan nyata dalam menjaga bumi, laut, dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya.**





Tinggalkan Balasan