LABUANBAJOVOICE.COM – Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi mengungkapkan keprihatinannya terhadap minimnya keterlibatan generasi muda di sektor pertanian yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi daerah.
Kondisi itu dinilai sebagai tantangan serius bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi Kabupaten Manggarai Barat.
Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Endi saat menghadiri kegiatan Pasar Kreasi Pangan yang digelar Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial bersama Yayasan Prestasi Junior Gemilang Indonesia melalui program Urban Futures di Lapangan Parkir Kampung Ujung, Rabu (29/4/2026).
Kegiatan itu dihadiri sejumlah pimpinan OPD lingkup Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Regional Koordinator Urban Futures Indonesia Laily Himayati, Dewan Nasional Yayasan Prestasi Junior Gemilang Indonesia Natalia Soebagjo, serta para mitra implementasi program Urban Futures dan kalangan anak muda peserta program.
Pada kesempatan itu, Endi memaparkan hasil Sensus Pertanian 2023. Dari total 135.560 penduduk bekerja di Manggarai Barat, sebanyak 74,43 ribu orang atau 54,14 persen terserap di sektor pertanian.
Namun, tambah dia, komposisi usia tenaga kerja pertanian dinilai belum ideal. Kalangan muda justru masih sedikit dibanding kelompok usia lanjut.
“Data sensus pertanian 2023 menunjukkan petani usia 19-39 tahun hanya 32,5%, sementara paling tinggi di usia 60-64 tahun mencapai 78%. Tentu ini menjadi refleksi panjang untuk pemerintah dan untuk kita sekalian. Maka kami dorong program hilirisasi,” tegas Endi.
Menurut Endi, sektor pertanian saat ini baru memberi kontribusi 1,56 persen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang secara agregat mencapai 5,82 persen pada 2025.
Bupati dua periode itu juga meyakini, jika generasi muda masuk dan mengembangkan inovasi di sektor ini, dampaknya akan signifikan bagi ekonomi daerah.
“Kalau saja anak-anak muda yang saat ini sudah didampingi menularkan kepada anak-anak muda lainnya, dalam keyakinan kami, pertumbuhan ekonomi kita tidak muluk-muluk di dua digit. Kalau kontribusi sektor ini naik ke 5%, yakin saya pertumbuhan ekonomi kita itu di angka paling jelek 12%,” ungkap Endi.
Endi menilai sektor pertanian tidak lagi bisa dipandang sebagai pekerjaan tradisional semata.
Menurut dia, pertanian masa depan harus dipadukan dengan teknologi digital, inovasi pemasaran, hilirisasi produk, dan pola usaha modern agar menarik minat generasi muda.
Ia juga mengutip Ensiklik Laudato Si dari Paus Fransiskus tahun 2015 untuk menekankan pentingnya pertobatan ekologis.
“Laudato Si mengingatkan kita untuk mencintai bumi karena bumi ini adalah rumah bersama. Semua kegiatan yang telah dilakukan ini bertujuan sebagai bagian konkret dari pertobatan ekologis. Ayo kita kampanyekan: mengkonsumsi pangan lokal sama dengan mencintai bumi, ayo kita bisa,” ajak Bupati.
Dalam kesempatan itu, Endi juga menyampaikan apresiasi atas kerja sama berbagai pihak yang dinilai berhasil menurunkan angka ketimpangan daerah dari 0,324 menjadi 0,317 pada 2025.
Bupati Manggarai Barat itu menyebut kontribusi program pendampingan mencapai 0,07 poin.
“Kolaborasi itu tidak hanya secarik tulisan yang ada dalam kertas, tapi kolaborasi yang hidup, berdenyut, dan berdampak nyata dalam peningkatan ekonomi rakyat. Kami sadari betul, 0,07 poin penurunan ketimpangan ini merupakan kontribusi dari teman-teman sekalian dengan total Rp31 miliar,” pungkas Bupati.
Ia berharap manfaat pembangunan tidak hanya terpusat di kota, tetapi menjangkau kampung, lembah, balik bukit, pesisir, hingga pulau-pulau kecil di Manggarai Barat.**






Tinggalkan Balasan