Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, menjelaskan bahwa konsep perjalanan tersebut terinspirasi dari Camino de Santiago de Compostela di Spanyol.
Gagasan itu diadaptasi untuk Flores dengan menggabungkan perjalanan spiritual, keindahan alam, kekayaan budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui pola perjalanan berjalan kaki, wisatawan diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk berinteraksi dengan warga, mengenal tradisi setempat, dan menggunakan jasa usaha lokal.
Peluang ekonomi dapat muncul melalui penginapan berbasis masyarakat, makanan dan minuman lokal, kerajinan tangan, tenun ikat, jasa pemandu, hingga transportasi pendukung.
Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menegaskan pentingnya menjadikan masyarakat dan kekayaan lokal sebagai bagian utama dari pengalaman wisata.
“Camino de Flores menjadi momentum untuk memperkenalkan Flores melalui pengalaman perjalanan yang lebih mendalam, dengan menjadikan masyarakat dan kekayaan lokal sebagai bagian utama dari pengalaman tersebut.” kata Andy.





Tinggalkan Balasan