Pemerintah Provinsi NTT juga membuka peluang pengembangan pola serupa di wilayah lain.
“Kita bisa buat Camino de NTT. Jadi di Flores buat sendiri, Timor buat sendiri, Sumba buat sendiri sesuai dengan daya tarik, cerita dan keunikan masing-masing,” ujar Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena.
Gagasan tersebut memperlihatkan peluang pengembangan wisata tematik berdasarkan karakter setiap wilayah, sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan destinasi sesuai kekhasan lokal.
Keberhasilan Camino de Flores perlu diukur melalui indikator yang lebih luas daripada jumlah peserta atau pemberitaan mengenai peluncurannya.
Indikator tersebut dapat mencakup lama tinggal wisatawan, jumlah usaha lokal yang terlibat, pendapatan yang berputar di desa, jumlah tenaga kerja yang memperoleh manfaat, serta kesinambungan kunjungan setelah kegiatan percontohan.
Ketersediaan data tersebut akan membantu pemerintah dan BPOLBF menilai apakah pola perjalanan ini benar-benar memperluas manfaat ekonomi ke wilayah yang sebelumnya belum memperoleh dampak optimal dari pariwisata.





Tinggalkan Balasan