Pemerataan tersebut penting karena aktivitas pariwisata tidak hanya membutuhkan destinasi yang menarik, tetapi juga rantai usaha lokal yang mampu memenuhi kebutuhan wisatawan.
Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, berharap pola perjalanan ini mendorong wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya langsung di desa-desa yang dilalui.
“Melalui konsep yang kita kembangkan, yaitu wisata berjalan kaki melewati berbagai keindahan alam, budaya, dan situs-situs religi, diharapkan memberikan pengalaman (experience) yang berbeda dan lebih mendalam.” ujar Mari Elka.
Konsep tersebut membuka peluang keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengelola homestay, perajin tenun ikat, penyedia kuliner tradisional, serta pemandu wisata lokal.
Wisatawan yang berjalan kaki membutuhkan tempat beristirahat, makanan, minuman, penginapan, transportasi pendukung, dan informasi mengenai sejarah maupun budaya setempat.
Kebutuhan tersebut dapat menjadi sumber pendapatan tambahan apabila masyarakat memperoleh kesempatan untuk menyediakan barang dan jasa secara langsung.





Tinggalkan Balasan