Meski demikian, peluang ekonomi tidak otomatis menjadi kesejahteraan. Masyarakat membutuhkan informasi mengenai jadwal perjalanan, perkiraan kebutuhan wisatawan, standar pelayanan, akses promosi, dan mekanisme kerja sama dengan penyelenggara tur.

Pelibatan usaha lokal sejak tahap perencanaan juga penting agar manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati operator perjalanan atau penyedia jasa dari luar wilayah.

Kementerian Pariwisata dan BPOLBF menyiapkan proyek percontohan Camino de Flores Etape Tengah pada 23–27 Oktober 2026.

Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif dijadwalkan menempuh rute Bajawa–Nagekeo–Ende sepanjang kurang lebih 70 kilometer.

Selain menjadi perjalanan spiritual, kegiatan ini akan memperkenalkan sejarah, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat di sepanjang rute.

Camino de Flores juga mengintegrasikan penggalangan dana untuk mendukung renovasi rumah sakit, gereja, sarana budaya dan pariwisata, serta penyediaan sanitasi dan akses air bersih.

Pengembangan tersebut dapat mempertemukan kepentingan pariwisata dan pemberdayaan masyarakat. Namun, pelaksanaan di lapangan memerlukan kesiapan jalur, fasilitas sanitasi, pengelolaan sampah, layanan kesehatan, serta prosedur keselamatan peserta.