LABUANBAJOVOICE.COM – Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi meluncurkan program kolaborasi strategis GEMA MABAR (Gereja dan Pemda Membangun Masyarakat Manggarai Barat) dalam pelaksanaan Sinode IV Keuskupan Ruteng di Ruteng, Selasa, 2 Juni 2026.
Peluncuran program tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam Sinode IV Keuskupan Ruteng yang mengusung tema “Berziarah Bersama dalam Pengharapan: Beriman, Bersaudara, dan Misioner”.
Kegiatan ini dihadiri Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, Bupati Manggarai Herybertus G. L. Nabit, para pastor paroki, ketua dewan paroki dari 61 paroki di wilayah Keuskupan Ruteng, serta berbagai unsur pemerintah, kelompok religius, komunitas gerejawi, dan organisasi sosial.
Pada kesempatan itu, Bupati Endi menegaskan bahwa Sinode bukan hanya ruang refleksi iman, tetapi juga momentum untuk memperkuat kerja sama lintas sektor dalam menjawab berbagai persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Sinode ini menjadi momentum penting bagi Gereja Keuskupan Ruteng untuk menatap masa depan dengan iman dan kepercayaan, sambil tetap berpijak pada realitas konkret kehidupan umat dan masyarakat di Manggarai Raya,” kata Endi.
Menurut dia, tema Sinode memiliki keselarasan dengan semangat pembangunan daerah yang menempatkan partisipasi masyarakat dan kolaborasi sebagai fondasi utama.
“Pembangunan bukan hanya tentang membangun daerah, tetapi tentang membangun manusia dan memuliakan kehidupan umat bagi Gereja, atau pemerintah menyebutnya sebagai masyarakat,” ujarnya.
Bupati Endi juga memaparkan capaian pembangunan Manggarai Barat dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,82 persen, tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh sektor pariwisata yang terus berkembang, terutama melalui kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo yang telah dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Selain itu, tingkat pengangguran terbuka juga menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), angka pengangguran turun dari 4,94 persen pada 2021 menjadi 3,32 persen pada 2025.
Menurut Endi, capaian tersebut tidak terlepas dari meningkatnya investasi di sektor pariwisata yang menciptakan peluang kerja baru bagi masyarakat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Berdasarkan data yang dipaparkan, sebanyak 54,14 persen penduduk Manggarai Barat masih bekerja di sektor pertanian. Namun, partisipasi generasi muda berusia 19 hingga 30 tahun dalam sektor tersebut hanya mencapai 32,5 persen berdasarkan Sensus Pertanian 2023.
Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius karena berdampak pada regenerasi petani dan produktivitas sektor pertanian yang masih tumbuh relatif rendah, yakni sebesar 1,53 persen.
“Kita memiliki dua realitas yang berjalan bersamaan. Di satu sisi terdapat pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh pariwisata dan sektor jasa. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat masih hidup dari sektor-sektor primer yang tersebar di desa-desa,” ujar Endi.
Ia menambahkan bahwa persoalan kemiskinan juga masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama-sama oleh pemerintah, Gereja, dunia usaha, dan masyarakat.
“Di balik pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, masih terdapat keluarga-keluarga yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pendapatan, kesempatan usaha, maupun sumber daya produktif,” katanya.
Melalui program GEMA MABAR, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat ingin membangun model kolaborasi yang lebih konkret dengan Gereja dalam bidang pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi keluarga, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengurangan kemiskinan di tingkat desa.
Program tersebut diharapkan menjadi wadah sinergi antara pemerintah dan Gereja untuk memastikan pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat Manggarai Barat.
Pelaksanaan Sinode IV Keuskupan Ruteng sekaligus menandai komitmen bersama antara Gereja dan pemerintah dalam memperkuat pembangunan manusia yang berakar pada nilai-nilai iman, persaudaraan, dan pelayanan kepada masyarakat.
“Kita memiliki dua realitas yang berjalan bersamaan. Di satu sisi terdapat pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh pariwisata dan sektor jasa. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat masih hidup dari sektor-sektor primer yang tersebar di desa-desa.” ujar Endi.**





Tinggalkan Balasan