LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menegaskan bahwa masa depan pariwisata Labuan Bajo Flores harus dibangun melalui pendekatan ekowisata berkelanjutan yang menempatkan konservasi alam, pelestarian budaya, dan kesejahteraan masyarakat sebagai fondasi utama pembangunan destinasi.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan: Best Practice dan Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Ekowisata di Kabupaten Manggarai Barat yang diselenggarakan BPOLBF bekerja sama dengan IN-FLORES di Labuan Bajo, Kamis, 16 Juli 2026.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama BPOLBF, Andy M. T. Marpaung, mengatakan Labuan Bajo Flores saat ini telah berkembang menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan Indonesia yang mendapat pengakuan dunia. Keunggulan bentang alam, kekayaan budaya, dan masyarakat yang masih menjaga kearifan lokal menjadi modal utama dalam membangun destinasi yang berkualitas dan berdaya saing.
Namun, menurut Andy, pertumbuhan pariwisata juga membawa konsekuensi berupa tanggung jawab yang semakin besar untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
“Labuan Bajo Flores telah berkembang menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan Indonesia yang dikenal dunia. Keunggulan alam, kekayaan budaya, serta masyarakat dengan kearifan lokal yang masih terjaga merupakan modal utama dalam membangun destinasi yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Andy.
Ia menegaskan, tantangan pembangunan pariwisata saat ini tidak lagi sekadar meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi memastikan seluruh proses pembangunan berjalan selaras dengan daya dukung lingkungan, pelestarian budaya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Tantangan yang kita hadapi hari ini bukan semata-mata bagaimana meningkatkan daya saing pariwisata, tetapi bagaimana memastikan setiap proses pembangunan tetap berjalan selaras dengan daya dukung lingkungan, pelestarian budaya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Pariwisata Harus Menjadi Bagian dari Solusi
Andy menjelaskan, meningkatnya perhatian dunia terhadap perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga tuntutan pembangunan rendah karbon menjadikan sektor pariwisata harus mengambil peran lebih besar sebagai bagian dari solusi.
Menurutnya, pengelolaan destinasi wisata tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian sumber daya alam, melindungi warisan budaya, dan menghadirkan manfaat yang adil bagi masyarakat lokal.
“Destinasi pariwisata perlu dikelola secara bertanggung jawab agar mampu menciptakan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian sumber daya alam, melestarikan warisan budaya, dan memberikan manfaat yang berkeadilan bagi masyarakat lokal,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Andy menilai konsep ekowisata kini menjadi pendekatan strategis dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan. Baginya, ekowisata bukan sekadar aktivitas wisata berbasis alam, melainkan model pembangunan yang menjadikan konservasi sebagai fondasi utama dan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.
Ia juga menyoroti berkembangnya konsep regenerative tourism atau pariwisata regeneratif yang kini mulai diterapkan di berbagai negara.
“Ekowisata bukan sekadar wisata berbasis alam, melainkan pendekatan pembangunan yang menempatkan konservasi sebagai pondasi, masyarakat sebagai pelaku utama, dan keberlanjutan sebagai tujuan,” jelas Andy.
“Dunia mulai bergerak menuju konsep regenerative tourism, yaitu pendekatan yang tidak hanya mempertahankan kondisi yang ada, tetapi juga memulihkan ekosistem, memperkuat nilai-nilai budaya lokal, serta menciptakan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat dan lingkungan,” tambahnya.
Melalui seminar nasional tersebut, BPOLBF berharap lahir berbagai rekomendasi kebijakan yang mampu memperkuat arah pembangunan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Barat sekaligus memperluas kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat.
Andy menegaskan seluruh kebijakan dan program pembangunan pariwisata ke depan harus menjaga identitas Labuan Bajo Flores sebagai destinasi kelas dunia tanpa mengorbankan kelestarian alam maupun budaya.
“Setiap kebijakan, setiap program, dan setiap bentuk kolaborasi yang kita bangun hari ini harus mampu memperkuat kualitas Labuan Bajo Flores sebagai destinasi yang terus tumbuh tanpa kehilangan identitas, kelestarian alam, dan nilai-nilai budaya yang menjadi kekuatan utamanya,” tutup Andy.
Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan tersebut menjadi forum strategis untuk menghimpun praktik terbaik sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan dalam pengembangan ekowisata di Manggarai Barat, sehingga pertumbuhan sektor pariwisata berjalan seiring dengan upaya konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.**





Tinggalkan Balasan