LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan tinggi gelombang di sejumlah perairan sekitar Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, dan Selat Sape mencapai 1,7 meter selama periode 15–17 Oktober 2026.

Berdasarkan informasi prakiraan cuaca maritim BMKG, Selat Sape bagian selatan menjadi wilayah dengan potensi gelombang tertinggi dalam periode tersebut.

Tinggi gelombang diprakirakan mencapai 1,1–1,7 meter pada Kamis, 15 Oktober, dan 1,0–1,7 meter pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Sementara itu, kondisi gelombang di sejumlah perairan lainnya menunjukkan variasi ketinggian. Pengguna jasa transportasi laut, nelayan, serta operator kapal diimbau tetap memperhatikan perkembangan cuaca dan kondisi arus sebelum melakukan pelayaran.

Gelombang Selat Sape Selatan Capai 1,7 Meter

Pada Kamis, 15 Oktober 2026, tinggi gelombang di Selat Sape bagian selatan diprakirakan berkisar 1,1–1,7 meter. Kondisi tersebut masih berlanjut pada Jumat, 16 Oktober, dengan kisaran 1,0–1,7 meter.

Memasuki Sabtu, 17 Oktober 2026, tinggi gelombang diprakirakan menurun menjadi 0,9–1,1 meter.

Di Selat Sape bagian utara, tinggi gelombang pada 15 Oktober diprakirakan berkisar 0,7–1,2 meter. Pada 16 Oktober, gelombang berada pada kisaran 0,6–1,1 meter, kemudian menurun menjadi 0,4–0,9 meter pada 17 Oktober.

Perbedaan kondisi gelombang di bagian utara dan selatan Selat Sape perlu menjadi perhatian pengguna transportasi laut dalam menentukan waktu dan rute pelayaran.

Gelombang Perairan Taman Nasional Komodo

Di perairan Taman Nasional Komodo, BMKG memprakirakan tinggi gelombang mencapai 0,9–1,3 meter pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Pada Jumat, 16 Oktober, tinggi gelombang diperkirakan berkisar 0,7–1,2 meter. Kondisi tersebut berangsur menurun pada Sabtu, 17 Oktober, dengan kisaran 0,7–0,9 meter.

Kondisi perairan ini perlu mendapat perhatian, terutama bagi operator kapal wisata, kapal penyeberangan, nelayan, serta wisatawan yang melakukan perjalanan laut di kawasan Taman Nasional Komodo.

Selain tinggi gelombang, karakteristik arus laut di wilayah kepulauan tersebut juga menjadi faktor penting dalam keselamatan pelayaran.

Arus yang cukup kuat dapat berubah kecepatan maupun arahnya dan memengaruhi stabilitas kapal.

Berbeda dengan Selat Sape bagian selatan, tinggi gelombang di perairan Labuan Bajo diprakirakan relatif lebih rendah selama periode yang sama.

Pada 15 Oktober 2026, tinggi gelombang diprakirakan berkisar 0,2–0,6 meter. Pada 16 Oktober, gelombang berada pada kisaran 0,2–0,4 meter, sedangkan pada 17 Oktober berkisar 0,3–0,4 meter.

Meski demikian, gelombang yang relatif rendah tidak serta-merta menjamin seluruh aktivitas pelayaran aman. Kondisi angin, perubahan cuaca, arus laut, serta karakteristik kapal tetap perlu diperhitungkan sebelum berlayar.

BMKG Imbau Pengguna Jasa Laut Tetap Waspada

Dalam imbauan keselamatan yang menyertai prakiraan tersebut, pengguna jasa transportasi laut, nelayan, dan operator kapal diminta tetap waspada terhadap potensi gelombang sedang serta peningkatan kecepatan angin atau gust yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Para nakhoda dan nelayan juga diingatkan untuk memperhatikan jadwal pasang surut, khususnya ketika beraktivitas di perairan kepulauan Taman Nasional Komodo yang memiliki karakteristik arus cukup kuat.

Perubahan kecepatan dan arah arus secara mendadak berisiko memengaruhi stabilitas kapal. Karena itu, pemantauan kondisi laut sebelum dan selama pelayaran menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko kecelakaan laut.

Pengguna jasa laut disarankan memeriksa pembaruan prakiraan cuaca maritim, menyesuaikan rencana perjalanan dengan kondisi aktual, serta mengikuti arahan otoritas terkait apabila kondisi perairan dinilai tidak aman.

Informasi prakiraan cuaca maritim lengkap dapat diakses melalui situs resmi BMKG pada laman Perairan Labuan Bajo, Perairan Taman Nasional Komodo, Selat Sape Bagian Utara, dan Selat Sape Bagian Selatan.**