LABUANBAJOVOICE.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pengguna transportasi laut, nelayan, dan operator kapal untuk mewaspadai potensi gelombang sedang di perairan Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, serta Selat Sape pada 24–26 September 2026.
Berdasarkan prakiraan BMKG Maritim, gelombang tertinggi selama periode tersebut berpotensi terjadi di Selat Sape bagian selatan.
Ketinggiannya diprakirakan mencapai 1,5–1,8 meter pada 24 September, 1,2–1,6 meter pada 25 September, dan 1,1–1,3 meter pada 26 September.
Kondisi laut tersebut perlu menjadi perhatian karena aktivitas pelayaran di kawasan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo melibatkan kapal penumpang, kapal wisata, kapal nelayan, serta perahu masyarakat.
Perubahan angin dan arus dapat memengaruhi kenyamanan maupun stabilitas kapal, terutama pada lintasan terbuka dan wilayah dengan arus kuat.
Rincian Prakiraan Gelombang
Perairan Labuan Bajo
Di Perairan Labuan Bajo, tinggi gelombang diprakirakan berada pada kisaran 0,7–1,2 meter pada 24 September. Gelombang kemudian berkisar 0,6–1,0 meter pada 25 September dan menurun menjadi 0,5–0,8 meter pada 26 September.
Perairan Taman Nasional Komodo
Perairan Taman Nasional Komodo diprakirakan mengalami gelombang 1,1–1,3 meter pada 24 September. Pada 25 September, gelombang berkisar 0,9–1,3 meter, lalu 0,9–1,1 meter pada 26 September.
BMKG juga menampilkan peringatan potensi gelombang sedang di perairan Taman Nasional Komodo. Pengguna jasa pelayaran diminta berhati-hati dan mengikuti arahan otoritas setempat.
Selat Sape Bagian Utara
Di Selat Sape bagian utara, tinggi gelombang diprakirakan mencapai 0,9–1,1 meter pada 24 September. Gelombang berkisar 0,7–1,1 meter pada 25 September, kemudian 0,5–0,8 meter pada 26 September.
Selat Sape Bagian Selatan
Selat Sape bagian selatan menjadi wilayah dengan prakiraan gelombang tertinggi dalam periode ini. Gelombang diprakirakan berada pada kisaran 1,5–1,8 meter pada 24 September, 1,2–1,6 meter pada 25 September, dan 1,1–1,3 meter pada 26 September.
Selain gelombang, data BMKG Maritim menunjukkan adanya hembusan angin yang dapat meningkat secara singkat dan tiba-tiba.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi manuver kapal, khususnya kapal berukuran kecil dan perahu yang membawa penumpang atau muatan.
BMKG mengingatkan bahwa perairan kepulauan di kawasan Taman Nasional Komodo memiliki karakteristik arus yang cukup kuat.
Jadwal pasang surut perlu diperhatikan karena perubahan pasang surut dapat memicu perubahan kecepatan dan arah arus secara mendadak.
Perubahan tersebut berisiko memengaruhi stabilitas kapal. Karena itu, nakhoda dan nelayan perlu menyesuaikan rencana pelayaran dengan kondisi cuaca, gelombang, angin, dan arus terbaru sebelum berangkat.
“Dihimbau kepada para pengguna jasa transportasi laut, nelayan, dan operator kapal untuk tetap waspada terhadap potensi gelombang sedang serta peningkatan kecepatan angin (gust) yang dapat terjadi sewaktu-waktu.” tulis BMKG dikutip media, Rabu (23/9/2026).
“Mengingat karakteristik Perairan Kepulauan Taman Nasional yang memiliki arus cukup kuat, para nakhoda dan nelayan dihimbau untuk memperhatikan Jadwal Pasang Surut yang dapat menyebabkan perubahan kecepatan serta arah arus secara mendadak dan berisiko mempengaruhi stabilitas kapal.” lanjutnya.
Penumpang sebaiknya memastikan operator kapal memantau informasi cuaca terbaru sebelum perjalanan. Operator kapal dan nakhoda juga perlu memeriksa kesiapan kapal, perlengkapan keselamatan, kapasitas muatan, serta jalur pelayaran yang akan dilalui.
Jika kondisi laut berubah, keputusan untuk menunda keberangkatan atau mengubah rute perlu mengutamakan keselamatan penumpang dan awak kapal.
Informasi prakiraan dapat berubah mengikuti pembaruan BMKG, sehingga pengguna jasa laut disarankan memantau kanal resmi BMKG dan mengikuti arahan otoritas pelabuhan atau pemerintah setempat.**





Tinggalkan Balasan