LABUANBAJOVOICE.COM – Anggota DPRD Manggarai Barat dari Fraksi Demokrat, Paskalis Yosep Sudario, melontarkan kritik keras terhadap kinerja Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan (Disparekrafbud) Manggarai Barat dalam menyusun arah pengembangan pariwisata super premium daerah tersebut.
Kritik itu disampaikan Paskalis dalam Rapat Kerja Komisi II DPRD bersama Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) terkait Evaluasi Peraturan Daerah Sistem Kepariwisataan Daerah yang berlangsung pada Selasa, 2 Juni 2026.
Dalam forum tersebut, Paskalis tidak hanya mempertanyakan substansi perencanaan pariwisata daerah, tetapi juga menyoroti ketidakhadiran Kepala Disparekrafbud Manggarai Barat dalam rapat yang membahas masa depan sektor unggulan daerah itu.
“Yang pertama, Kadis sendiri juga tidak hadir, jadi tidak seru. Kemudian saya melihat rancangannya Dinas Pariwisata itu dari awal sepertinya kurang beres,” kata Paskalis dalam rapat.
Menurutnya, persoalan mendasar yang dihadapi sektor pariwisata Manggarai Barat saat ini adalah belum adanya panduan pembangunan yang jelas dan terukur.
Ia menilai arah pengembangan destinasi wisata seharusnya berpijak pada dokumen perencanaan yang komprehensif melalui Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPARDA).
“Kenapa? Tidak ada panduannya. Kan harus dimulai dari RIPARDA. Apa yang harus kita lakukan, mana-mana objek wisata kita di Manggarai Barat supaya kita kembangkan dan ada perencanaan yang baik,” tegasnya.
Selain menyinggung absennya RIPARDA, Paskalis juga mengkritik keterlambatan pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) yang seharusnya menjadi motor penyusunan arah pembangunan pariwisata daerah.
Menurutnya, pembentukan Pokja seharusnya menjadi langkah awal untuk memetakan potensi wisata, menyusun prioritas pembangunan, hingga merancang strategi pengembangan destinasi secara menyeluruh.
“Menurut saya dinas sekarang ini sudah terlambat membentuk Pokja. Pokja inilah yang nanti bergerak merancang RIPARDA secara keseluruhan untuk Manggarai Barat,” ujarnya.
Politikus dari Daerah Pemilihan I itu mengingatkan bahwa tanpa perencanaan yang matang, ambisi menjadikan Manggarai Barat sebagai destinasi pariwisata premium hanya akan menjadi slogan tanpa arah.
“Kalau tidak ada panduannya yang jelas, saya punya keyakinan kita berteriak-teriak soal pariwisata premium di Manggarai Barat ini, diketawain orang,” katanya.
Dalam rapat tersebut, Paskalis juga mengaitkan kritiknya dengan sejumlah persoalan yang terjadi di lapangan, termasuk insiden yang terjadi di kawasan wisata Cunca Wulang.
Ia mempertanyakan lemahnya pengawasan terhadap sarana dan prasarana wisata yang menurutnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah melalui dinas terkait.
“Sekarang kita kembali kepada persoalan terakhir ini, bencana di Cunca Wulang. Coba bayangkan, kayu lapuk. Kontrol dinas itu di mana?” ujarnya.
Paskalis menilai kerusakan infrastruktur wisata tidak hanya terjadi di satu lokasi. Ia menyinggung kondisi sejumlah fasilitas publik wisata lainnya, termasuk jembatan dan dermaga di kawasan Gua Rangko yang mengalami kerusakan.
Menurutnya, jika persoalan-persoalan dasar tersebut tidak segera dibenahi, citra pariwisata Manggarai Barat dapat tergerus dan berdampak pada tingkat kepercayaan wisatawan.
“Dan nanti ke depannya orang akan takut datang di Manggarai Barat. Inilah persoalan,” katanya.
Paskalis juga menyoroti belum adanya konsep pengembangan yang jelas terhadap sejumlah destinasi potensial di Manggarai Barat, termasuk Danau Sano Nggoang yang selama ini dikenal memiliki daya tarik wisata alam yang besar.
Menurutnya, pemerintah daerah belum menunjukkan rancangan pengembangan yang konkret terhadap berbagai daya tarik wisata yang tersebar di wilayah tersebut.
“Saya terkadang kaget melihat Danau Sano Nggoang yang begitu luar biasa, tidak ada rancangan dari pemerintah atau dari pariwisata,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak destinasi wisata baru yang berpotensi dikembangkan. Namun tanpa RIPARDA dan arah kebijakan yang jelas, pengembangan destinasi tersebut dinilai sulit dilakukan secara optimal.
“Bagaimana kita mau kembangkan yang baru, yang lama saja tidak diurus dengan baik,” katanya.
Sebagai langkah awal pembenahan, Paskalis meminta Sekretaris Disparekrafbud yang hadir mewakili kepala dinas untuk segera membentuk Pokja guna menyusun arah pembangunan pariwisata Manggarai Barat ke depan.
“Menurut saya Pak Sekretaris, bentuk itu Pokja supaya dia akan pikirkan apa yang harus dilakukan, kita kelola Manggarai Barat ini supaya ke depannya akan lebih baik,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa DPRD perlu fokus pada persoalan-persoalan mendesak yang sedang dihadapi sektor pariwisata sebelum berbicara lebih jauh mengenai target pariwisata premium.
“Kita tangani dulu yang ada di depan mata kita, yang menggoncang Manggarai Barat ini,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas (Kadis) Parekrafbud Manggarai Barat, Petrus Antonius Rasyid saat dikonfirmasi, ia sedang di kantor Polres Manggarai Barat.
“Saya di Polres,” ujarnya singkat.
Terkait alasan dirinya berada di Polres Manggarai Barat dan tidak hadir dalam rapat tersebut, dirinya tidak memberikan tanggapan.**





Tinggalkan Balasan