14 Miliar Anggaran Tiap Tahun Dikeluarkan Pemda Mabar untuk Urusan Sampah
Pemda Manggarai Barat sadar, bahwa kita tidak bisa bekerja sendiri, kita butuh stacholder dan mitra untuk bisa bekerjasama secara sinergi

LABUANBAJOVOICE.COM | Sekretaris Daerah (Sekda) Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo alias Hans Sodo menyampaikan, bahwa perfomance di aspek lingkungan, Manggarai Barat mengalami peningkatan.
“Dari beberapa kegiatan prosesmen yang kita lakukan dalam waktu tahun 2019 dengan 2023, khusus untuk aspek lingkungan, perfomance kita sudah meningkat, ini juga karena keterlibatan Ibu Ica,” ujar Hans Sodo pada saat acara peresmian pusat pembelajaran lingkungan atau environment learning center Indonesia Waste Platform (IWP) di Labuan Bajo pada Jumat, 19 Juli 2024 pagi.
Menurut dia, Kordinator Umum IWP, Marta Muslin Tulis atau biasa dipanggil Ica ini bagian dari anggota Tim Kerja Daerah untuk melakukan penilaian mandiri terhadap sustainablitie yang ada di Labuan Bajo.
“Terkait dengan hal itu, ada satu persoalan yang menurut saya cukup mendasar yang sangat perlu mendapatkan atensi yang besar dari seluruh stakeholder yang ada di Labuan Bajo,” jelas Sekda Mabar.
Sekarang ini, lanjut dia, anggaran dari Dinas Lingkungan Hidup untuk urusan sampah kurang lebih 14 miliar rupiah setiap tahun pengeluaran yang di lakukan.
“Dan proporsi yang terbesar yang kita lakukan untuk urusan sampah itu adalah bahan bakar. Bahan bakar bergerak dengan pengangkutan sampah sampai kepada pengguna teknologi sampah thermal di TPA (Tempat Pembuangan Akhir),” lanjut dia.
Dia katakan, kita punya TPA yang menggunakan teknologi sampah dan verbal. Dimana sampah kemudian dibakar, sehingga menghasilkan residu.
“Dan itu adalah uji coba penggunaan teknologi yang mungkin Labuan Bajo menjadi satu atau dua dari penerapan teknologi itu di Indonesia. Yang disponsori oleh pemerintah pusat, dan tentu memakan biaya yang sangat besar,” ujarnya.
Problem terbesar dari soal ini, tambah dia, adalah sampah yang menuju kesana itu tidak melalui pembelahan (pemisahan) dan lain sebagainya.
“Dan saya pikir apa yang dilakukan Ibu Ica dan teman-teman adalah bagian yang paling tepat untuk mereduksi jumlah sampah yang akan menuju ke TPA. Dengan demikian beban kerja TPA itu kemudian menjadi lebih kecil, 3R (Resduce, Reuse, Recyle) itu adalah bagian dari kerja yang sangat penting,” kata Hans Sodo.
Dikatakan Sekda Mabar itu, untuk itu, pemerintah terus terang, bahwa kita tidak bisa bekerja sendiri, kita butuh stacholder dan mitra untuk bisa bekerjasama secara sinergi. Bagaimana mengedukasi masyarakat membuat ini menjadi habits (kebiasaan) dikalangan masyarakat
“Sehingga pemilahan-pemilahan sampah, termasuk yang disampaikan oleh Ibu Ica tadi itu luar biasa. Kebiasaan menggunakan sampo sasetan itu dirubah menjadi botol. Karena terus terang, sampah sasetan dirumah itu banyak termasuk plastik ikan, betul,” terang Sekda.
Penulis: Hamid