LABUANBAJOVOICE.COM – Sebanyak 13 ibu rumah tangga di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), berhasil menyelesaikan pelatihan menjahit pakaian menggunakan mesin yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Koperasi dan UKM (DisnakertranskopUKM) Manggarai Barat.

Pelatihan yang berlangsung selama 26 hari tersebut ditutup di Sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) Molas Tenun Lembor, Kecamatan Lembor, Sabtu (24/10/2026).

Program ini menjadi salah satu upaya meningkatkan keterampilan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, agar memiliki bekal untuk mengembangkan usaha mandiri dan membuka peluang penghasilan baru bagi keluarga.

Menariknya, seluruh peserta berhasil menuntaskan pelatihan meskipun sebelumnya belum pernah menggunakan mesin jahit. Sebanyak 13 peserta tersebut memiliki latar belakang pendidikan terakhir sekolah menengah atas (SMA).

Kepala DisnakertranskopUKM Kabupaten Manggarai Barat, Fatinci Reynilda, mengaku bangga terhadap keberhasilan para peserta dalam mengikuti seluruh rangkaian pelatihan.

“Tadi saya tutup kegiatan pelatihan menjahit pakaian dengan mesin, bertempat di sentra IKM Molas Tenun Lembor.” kata Fatinci.

Ia menjelaskan, pelatihan selama 26 hari tersebut diikuti oleh ibu rumah tangga yang sebelumnya belum memiliki pengalaman menggunakan mesin jahit.

“Pelatihan selama 26 hari sudah selesai, 13 peserta semua adalah ibu rumah tangga pendidikan SMA dan tidak pernah lihat mesin jahit berhasil menyelesaikan pelatihan selama 26 hari,” ungkapnya.

Fatinci menilai keberhasilan seluruh peserta menyelesaikan pelatihan merupakan capaian positif dalam upaya meningkatkan keterampilan masyarakat.

Menurutnya, para peserta menunjukkan kemampuan dan bakat yang dapat terus dikembangkan setelah mengikuti pelatihan.

“Saya senang dan bangga dengan kemampuan dan keterampilan 13 peserta. Semua sangat berbakat,” ujarnya.

Ia berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan berakhir. Para peserta diharapkan mampu mengembangkan kemampuan tersebut menjadi usaha menjahit mandiri yang produktif dan berkelanjutan.

Dengan keterampilan menjahit, para peserta memiliki peluang untuk menerima pesanan pakaian, mengembangkan usaha rumahan, maupun bekerja pada sektor usaha yang membutuhkan tenaga terampil.

Setelah penutupan pelatihan, para peserta dijadwalkan mengikuti ujian kompetensi yang dilaksanakan oleh tim penguji dari Balai Latihan Kerja (BLK) Lombok Timur pada 27 Oktober 2026.

Ujian tersebut menjadi tahapan penting untuk menilai kemampuan peserta setelah menjalani pelatihan selama hampir satu bulan.

Peserta yang dinyatakan lulus akan memperoleh sertifikat kompetensi sebagai bukti pengakuan atas keterampilan yang dimiliki.

“Peserta yang lulus akan mendapatkan sertifikat kompetensi. Ini sangat penting bagi peserta,” tegasnya.

Menurut Fatinci, sertifikat kompetensi dapat menjadi salah satu modal bagi peserta untuk mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan peluang memasuki dunia kerja.

Dengan adanya pengakuan kompetensi, peserta diharapkan semakin percaya diri dalam menawarkan jasa menjahit maupun mengembangkan usaha di bidang konveksi.

Selain membuka peluang usaha mandiri, keterampilan menjahit juga dinilai memiliki prospek untuk mendukung kebutuhan industri pariwisata di Manggarai Barat yang dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan Indonesia.

Peluang usaha tersebut meliputi pembuatan seragam hotel dan restoran, pakaian kerja, produk fesyen berbasis tenunan lokal, suvenir berbahan tenunan, hingga pengembangan usaha konveksi.

Kebutuhan produk tekstil untuk sektor pariwisata dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas pasar.

Fatinci berharap para peserta mampu memanfaatkan peluang tersebut dengan terus meningkatkan keterampilan, menjaga kualitas jahitan, disiplin terhadap waktu, serta memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan.

Menurutnya, kualitas produk, kreativitas, ketepatan waktu, dan profesionalisme merupakan faktor penting bagi pelaku usaha yang ingin memasuki pasar industri pariwisata berkelas dunia.

Penggunaan tenunan lokal dalam produk jahitan juga berpotensi memperkenalkan kekayaan tekstil Manggarai Barat kepada wisatawan sekaligus memberikan nilai tambah bagi produk berbasis budaya daerah.

Dalam kegiatan penutupan pelatihan pada Sabtu (24/10/2026), para peserta turut mengenakan pakaian hasil jahitan mereka sendiri.

Hasil tersebut menjadi salah satu bukti keterampilan yang berhasil mereka pelajari dan kembangkan selama mengikuti pelatihan selama 26 hari.

Keberhasilan para peserta menyelesaikan pelatihan diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun usaha produktif, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga.

Melalui peningkatan keterampilan dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal, ibu rumah tangga di Manggarai Barat diharapkan dapat mengambil bagian dalam pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk memenuhi kebutuhan produk tekstil bagi masyarakat dan industri pariwisata.**