Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Selain menjadi salah satu ikon wisata Labuan Bajo, panggung terbuka di kawasan itu diharapkan mempertemukan ekspresi budaya lokal dengan audiens yang lebih luas, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara.
Mardaniyanti berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi model pembinaan berkelanjutan.
Menurutnya, regenerasi pelaku seni tradisi harus dimulai dari ruang-ruang publik yang inklusif dan ramah anak. Dengan demikian, identitas budaya Manggarai tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan industri pariwisata yang pesat di Labuan Bajo.
Workshop caci usia dini ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya soal menjaga tradisi masa lalu, tetapi juga menyiapkan generasi masa depan yang percaya diri menampilkan jati diri Manggarai di tingkat lokal maupun global.**





Tinggalkan Balasan