LABUANBAJOVOICE.COM – Aktivitas wisata di Pelabuhan Marina Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, sempat diwarnai ketegangan pada Minggu (3/5/2026) siang.
Perselisihan antara pengurus kapal wisata dan agen perjalanan terkait keterlambatan pembayaran nyaris berdampak pada kenyamanan wisatawan.
Insiden ini bermula dari laporan pihak Kapal Wisata Arham Jaya 02 yang mengalami kendala dalam penagihan sisa pembayaran perjalanan empat wisatawan asal Bali.
Situasi sempat memanas karena pihak agen travel sulit dihubungi, sementara kewajiban pembayaran seharusnya telah diselesaikan sebelum atau saat keberangkatan.
“Kejadian ini bermula saat pengurus kapal, Angga Permana, merasa kesulitan menghubungi pihak agen travel terkait sisa pembayaran yang seharusnya sudah diselesaikan sebelum atau saat keberangkatan tamu,” kata Kasat Pam Obvit, I Komang Agus Budiawan dalam keterangannya, Senin (4/5) pagi.
Menurutnya, agen dari Quanty Tour yang bernama Andre Faysal tidak merespons upaya komunikasi, baik dari pengurus kapal maupun wisatawan, meski telah dihubungi berulang kali.
“Sebelumnya, pihak pengurus kapal bersama tamu sudah mencoba menjalin komunikasi baik-baik, namun dari pihak agen sama sekali tidak ada respon. Padahal kewajiban pelunasan harus segera diselesaikan demi kelancaran operasional kapal dan kenyamanan tamu yang dibawa,” ujarnya.
Empat wisatawan yang terdampak dalam peristiwa ini yakni I Komang Raynal Dewangga Alfreda, Desak Putu Widya Sari Dewi, Ni Komang Yustika Putri, dan Sang Nyoman Indra Bagus Kusuma. Mereka tengah menikmati perjalanan wisata di destinasi super prioritas tersebut.
Guna menjaga citra pariwisata Labuan Bajo sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo, aparat bergerak cepat.
Sat Pam Obvit Polres Manggarai Barat bersama petugas Syahbandar melakukan mediasi langsung di lokasi kejadian.
Pendekatan persuasif yang dilakukan aparat terbukti efektif. Pihak agen akhirnya muncul dan bersedia menyelesaikan kewajibannya.
“Setelah dilakukan mediasi persuasif bersama rekan-rekan dari Syahbandar, pihak agen telah merespon kendala yang ada. Masalah ini murni terjadi karena miskomunikasi. Kabar baiknya, seluruh tunggakan telah diselesaikan dan dilunasi oleh pihak agen kepada pengurus kapal,” terang Kasat Pam Obvit.
Respons positif datang dari para wisatawan. Mereka mengaku lega setelah masalah yang berpotensi merugikan dapat diselesaikan dengan cepat.
“Kami berterima kasih kepada jajaran Polisi Pariwisata (Sat Pam Obvit) dan tim Syahbandar Labuan Bajo atas bantuan cepatnya dalam menangani kendala yang kami hadapi,” ungkap Raynal dengan nada lega.
“Kami hampir saja menjadi korban penipuan oleh agen ‘Quanty Tour’ yang tidak melunasi pembayaran kepada pihak kapal. Berkat mediasi dari para petugas, persoalan ini dapat diselesaikan dengan sangat baik. Kami sangat puas dan berterima kasih; semoga di lain kesempatan kita dapat berjumpa kembali,” sambungnya.
Meski situasi telah kembali kondusif, kepolisian menegaskan pentingnya profesionalisme di sektor pariwisata, terutama di destinasi unggulan nasional.
“Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para pelaku jasa wisata di Labuan Bajo untuk selalu mengedepankan profesionalisme dan transparansi informasi,” tegas IPTU I Komang Agus Budiawan, S.E.
Ia menambahkan, pengawasan akan terus ditingkatkan guna memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan tetap terjaga.
“Kami akan terus memantau aktivitas di pelabuhan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo,” sebut perwira tersebut.
Peristiwa ini menjadi cermin bahwa koordinasi, komunikasi, dan integritas pelaku industri wisata menjadi kunci menjaga kepercayaan publik.
Di tengah pesatnya pertumbuhan pariwisata Labuan Bajo, kualitas layanan menjadi wajah Indonesia di mata dunia.**






Tinggalkan Balasan