AKP Lufthi menjelaskan, tanpa pikir panjang, ketiganya langsung memesan tiket pesawat dan terbang dari Bali menuju Labuan Bajo.

Setibanya di Bandara Internasional Komodo sekitar pukul 17.30 WITA, mereka langsung melanjutkan perjalanan darat selama kurang lebih empat jam menuju Desa Compang.

Sekitar pukul 21.30 WITA, mereka tiba di lokasi kejadian. Ketegangan sudah terasa sejak awal.

BM (24) sempat mencoba berdiskusi dengan korban sekitar satu jam setelah kedatangan mereka. Namun, upaya damai itu gagal total.

“Korban MJ diduga menyerang ketiga bersaudara tersebut menggunakan sebilah parang. PS (21) menjadi orang pertama yang terkena serangan; ia mencoba menangkis sabetan parang dengan tangan kosong hingga menderita luka robek serius di tangan kirinya,” jelas AKP Lufthi.

Melihat saudara mereka bersimbah darah, YI (18) dan BM (24) panik dan emosi memuncak. Keduanya keluar rumah, mengambil potongan kayu, lalu kembali masuk ke Rumah Adat Gendang Palit.

Perkelahian maut pun tak terelakkan. Hantaman kayu dari YI tepat mengenai tangan korban hingga parang terlepas dari genggaman MJ dan jatuh ke lantai papan rumah adat.