LABUANBAJOVOICE.COM – Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, secara resmi mengumumkan bahwa akun Facebook dengan nama Edistasius Endi bukanlah akun pribadinya, melainkan akun palsu yang dibuat oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Akun palsu tersebut diketahui secara terbuka meminta uang kepada sejumlah akun Facebook lainnya, sehingga berpotensi merugikan masyarakat.
Pengumuman itu disampaikan langsung oleh Bupati Endi melalui akun Facebook resminya bernama Edi Endi atau @bapaaurel, pada Senin (26/1/2026).
“Hati hati dengan akun di bawah ini, kalau dirugikan silahkan lapor polisi. Saya mendapat laporan akun ini meminta minta uang.” tulis akun resmi Bupati Manggarai Barat.
Hingga berita ini diterbitkan, status Facebook tersebut telah mendapatkan perhatian luas dari publik, dengan rincian 738 kali disukai, 143 komentar dan 8 kali dibagikan.
Hal ini menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap potensi penipuan yang mengatasnamakan pejabat publik.
Sejumlah warganet turut memberikan komentar atas pengumuman tersebut.
“Ini rentan sekali kaum mama mama Lansia di dapur yg pemula kalau main Facebook 🤣 gampang kena Tipu🤣,” tulis akun Rryo Nabal dalam kolom komentar.
Sementara akun Marselus Garut mengingatkan bahaya peretasan dan penipuan digital.
“Kita harus waspada dengan tindakan para hacker utk menjatuhkan harga diri kita, terima kasih infonya bapak Bupati.” tulis akun Marselus Garut.
Komentar bernada kritis datang dari akun Sujono dengan centang biru.
“Makanya labeli dengan verifikasi Meta Bos Edi Endi, masa buang 100k/bln aja nggak bisa 😂 Saya aja yang bukan pejabat bisa 😂🤪
Neka rabo om papati 😂🙏,” tulis akun Sujono.
Neka rabo dalam bahasa daerah Manggarai berarti mohon maaf.
Kasus akun palsu yang mengatasnamakan pejabat publik semakin marak seiring meningkatnya penggunaan media sosial.
Modus meminta uang atas nama pejabat daerah bukan hanya merugikan korban secara finansial, tetapi juga mencederai reputasi pejabat bersangkutan.
Kejadian seperti ini mengingatkan kita yang aktif menggunakan media sosial agar tidak mudah percaya terhadap akun yang mengatasnamakan pejabat.
Kemudian, periksa keaslian akun melalui sumber resmi, tidak mentransfer uang tanpa verifikasi, segera melapor ke polisi jika merasa dirugikan.
Langkah ini penting untuk memutus mata rantai penipuan berbasis digital yang semakin canggih.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya edukasi literasi digital kepada masyarakat, khususnya kelompok lansia dan pengguna pemula media sosial. **

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan