LABUANBAJOVOICE.COM — Penyelenggaraan Camino de Flores Etape Tengah tidak hanya menghadirkan perjalanan ziarah berjalan kaki lintas wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, tetapi juga membawa dukungan bagi pelestarian warisan budaya masyarakat Ende.
Pada rangkaian penutupan kegiatan, Senin, 26 Oktober 2026, Mari Elka Pangestu bersama arsitek Yori Antar memberikan bantuan secara simbolis untuk mendukung pembangunan rumah tenun di Kelibara dan revitalisasi Rumah Adat Ata Ngi’i Ngape di Wologeru, Kabupaten Ende.
Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat pelestarian pengetahuan tradisional, keterampilan menenun, dan identitas budaya masyarakat setempat.
Rumah tenun di Kelibara selanjutnya akan diberi nama Sao Tege Seda Camino Kelibara. Sementara itu, rumah adat di Wologeru akan diberi nama Sao Ria Ngi’i Nangape Camino Wologeru setelah proses penataan selesai.
Kedua inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar warisan budaya tetap hidup, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pembangunan rumah tenun di Kelibara diharapkan mendukung keberlanjutan keterampilan menenun yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Ende.
Tenun tradisional bukan sekadar produk kerajinan. Di dalamnya terdapat pengetahuan yang diwariskan antargenerasi, keterampilan mengolah bahan, serta nilai budaya yang melekat pada kehidupan masyarakat.
Keberadaan rumah tenun diharapkan dapat menjadi ruang untuk menjaga pengetahuan tersebut sekaligus memperkuat pengenalan budaya lokal kepada masyarakat luas.
Apabila dikembangkan secara berkelanjutan, rumah tenun juga berpotensi menjadi ruang aktivitas budaya yang terhubung dengan perjalanan wisata, sehingga pengunjung dapat mengenal proses dan nilai di balik produk tenun tradisional.
Namun, manfaat tersebut membutuhkan keterlibatan masyarakat setempat agar pelestarian tradisi berjalan seiring dengan kebutuhan dan keberlanjutan kehidupan para perajin.
Selain mendukung pembangunan rumah tenun, bantuan juga diberikan untuk revitalisasi Rumah Adat Ata Ngi’i Ngape di Wologeru, Ende.
Revitalisasi tersebut diharapkan membantu menjaga keberadaan rumah adat sebagai bagian dari warisan arsitektur tradisional dan identitas budaya masyarakat setempat.
Dalam pelestarian rumah adat, pembangunan fisik perlu berjalan bersama upaya menjaga pengetahuan mengenai bentuk bangunan, nilai tradisi, dan keterlibatan komunitas yang mewarisinya.
Yori Antar dikenal sebagai arsitek yang aktif mendorong pelestarian arsitektur tradisional Nusantara melalui gerakan Rumah Asuh.
Kiprahnya dalam mendukung pembangunan kembali rumah adat dan melibatkan masyarakat setempat menjadi salah satu rujukan dalam upaya menjaga keberlanjutan warisan arsitektur Indonesia.
Dukungan bagi rumah adat di Wologeru diharapkan tidak hanya menghasilkan bangunan yang tertata, tetapi juga memperkuat kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga warisan budaya daerah.
Dukungan bagi rumah tenun dan rumah adat tersebut disampaikan dalam rangkaian Camino de Flores Etape Tengah yang resmi berakhir pada Senin, 26 Oktober 2026.
Kegiatan ini berlangsung selama empat hari dengan melintasi Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende. Para peserta menempuh perjalanan sekitar 70 kilometer, termasuk perjalanan terakhir menuju Puncak Danau Kelimutu dan Desa Wisata Waturaka dengan jarak sekitar 13 kilometer.
Selain menyusuri destinasi alam, peserta juga mengunjungi Serambi Soekarno di Biara Santo Yosef, Ende, yang berkaitan dengan masa pengasingan Soekarno pada 1934–1938.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui Misa Penutupan Camino de Flores yang dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, di Gereja Katedral Kristus Raja.
Perjalanan ini mempertemukan pengalaman spiritual dengan kekayaan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat di sepanjang rute.
Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy MT Marpaung, menilai Camino de Flores memperlihatkan potensi pengembangan pariwisata yang menghubungkan destinasi dengan kehidupan masyarakat lokal.
“Camino de Flores menunjukkan bahwa perjalanan wisata dapat menjadi ruang untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, mengenal warisan budaya, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap daerah yang dikunjungi.” ujar Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, Rabu (28/10/2026).
Menurut Andhy, pengalaman berjalan kaki dan berinteraksi dengan masyarakat memberikan nilai tambah yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga spiritual dan sosial.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan paket perjalanan wisata berbasis minat khusus di Flores, termasuk wisata religi yang melibatkan desa wisata, pelaku UMKM, komunitas budaya, dan masyarakat setempat.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena juga mengapresiasi penyelenggaraan Camino de Flores dan berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang.
Menurutnya, keterlibatan peserta dari berbagai latar belakang merupakan kesempatan untuk memperkenalkan potensi Flores sekaligus membangun jejaring yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam konteks pelestarian budaya, pengembangan pariwisata perlu diarahkan agar tidak hanya memperkenalkan warisan lokal kepada pengunjung, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi mereka.
Dukungan terhadap rumah tenun di Kelibara dan revitalisasi rumah adat di Wologeru menjadi salah satu contoh bagaimana perjalanan wisata dapat dihubungkan dengan pelestarian budaya.
Ke depan, keterlibatan perajin, komunitas adat, pelaku usaha lokal, dan generasi muda akan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan inisiatif tersebut.
Dengan demikian, warisan budaya tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi tetap menjadi bagian hidup dari identitas masyarakat Ende.**





Tinggalkan Balasan