LABUANBAJOVOICE.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan kondisi gelombang di wilayah perairan Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, serta Selat Sape untuk periode 30 Oktober hingga 1 November 2026.

Dalam periode tersebut, tinggi gelombang di sejumlah wilayah perairan diprakirakan berkisar antara 0,2 hingga 1,3 meter. Gelombang tertinggi diprakirakan terjadi di Selat Sape bagian selatan pada 30 Oktober 2026.

Informasi ini menjadi perhatian bagi pengguna jasa transportasi laut, nelayan, nakhoda, serta operator kapal yang beraktivitas di kawasan perairan Manggarai Barat dan sekitarnya.

Meski tinggi gelombang di beberapa wilayah relatif rendah, pengguna transportasi laut tetap diminta mewaspadai potensi gelombang sedang dan peningkatan kecepatan angin secara tiba-tiba.

Prakiraan Gelombang Perairan Labuan Bajo

Berdasarkan informasi prakiraan cuaca maritim BMKG, tinggi gelombang di Perairan Labuan Bajo diperkirakan berada pada kisaran 0,2–0,3 meter pada 30 Oktober 2026.

Pada 31 Oktober 2026, tinggi gelombang diprakirakan berkisar antara 0,2–0,6 meter. Sementara itu, pada 1 November 2026, tinggi gelombang diperkirakan berada pada kisaran 0,3–0,4 meter.

Informasi prakiraan cuaca selengkapnya dapat diakses melalui laman resmi BMKG untuk “Perairan Labuan Bajo” (https://maritim.bmkg.go.id/cuaca/perairan/perairan-labuan-bajo).

Gelombang di Perairan Taman Nasional Komodo

Untuk wilayah Perairan Taman Nasional Komodo, tinggi gelombang pada 30 Oktober 2026 diprakirakan berkisar antara 0,2–0,8 meter.

Pada 31 Oktober hingga 1 November 2026, tinggi gelombang diprakirakan berada pada kisaran 0,7–0,9 meter.

Kondisi perairan tersebut perlu menjadi perhatian operator kapal wisata, nakhoda, dan pengguna jasa transportasi laut yang melayani perjalanan menuju kawasan Taman Nasional Komodo.

Selain memperhatikan prakiraan gelombang, pelaku aktivitas pelayaran juga perlu mempertimbangkan kondisi angin dan arus laut sebelum melakukan perjalanan.

Prakiraan selengkapnya tersedia melalui laman resmi BMKG untuk “Perairan Taman Nasional Komodo” (https://maritim.bmkg.go.id/cuaca/perairan/perairan-taman-nasional-komodo).

Selat Sape Bagian Utara dan Selatan

Di Selat Sape bagian utara, tinggi gelombang pada 30 Oktober 2026 diprakirakan berkisar antara 0,4–0,7 meter.

Kondisi tersebut diprakirakan relatif serupa pada 31 Oktober 2026, dengan tinggi gelombang 0,4–0,7 meter. Pada 1 November 2026, tinggi gelombang diperkirakan berkisar antara 0,5–0,6 meter.

Sementara itu, Selat Sape bagian selatan diprakirakan mengalami gelombang yang lebih tinggi dibandingkan wilayah perairan lainnya dalam informasi prakiraan tersebut.

Pada 30 Oktober 2026, tinggi gelombang di wilayah ini diperkirakan mencapai 0,6–1,3 meter. Pada 31 Oktober, tinggi gelombang diprakirakan berkisar antara 0,6–1,2 meter, sedangkan pada 1 November berada pada kisaran 0,7–1,1 meter.

Informasi lebih lengkap mengenai kondisi perairan dapat diakses melalui laman resmi BMKG untuk “Selat Sape Bagian Utara” (https://maritim.bmkg.go.id/cuaca/perairan/selat-sape-bagian-utara) dan “Selat Sape Bagian Selatan” (https://maritim.bmkg.go.id/cuaca/perairan/selat-sape-bagian-selatan).

BMKG Imbau Pengguna Transportasi Laut Waspada

BMKG mengimbau pengguna jasa transportasi laut, nelayan, dan operator kapal agar tetap waspada terhadap potensi gelombang sedang serta peningkatan kecepatan angin atau gust yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Selain itu, karakteristik perairan kepulauan di kawasan Taman Nasional Komodo yang memiliki arus cukup kuat perlu menjadi perhatian para nakhoda dan nelayan.

Perubahan jadwal pasang surut dapat memengaruhi kecepatan dan arah arus laut. Kondisi tersebut berpotensi berubah secara mendadak sehingga dapat memengaruhi stabilitas kapal.

Karena itu, para nakhoda dan nelayan diimbau memperhatikan jadwal pasang surut sebelum berlayar serta memantau pembaruan informasi cuaca maritim dari BMKG.

Pengguna transportasi laut juga perlu menyesuaikan aktivitas pelayaran dengan kondisi aktual di lapangan, memperhatikan keselamatan penumpang, dan memastikan kapal berada dalam kondisi laik berlayar.

Prakiraan cuaca maritim merupakan salah satu acuan penting dalam perencanaan pelayaran.

Namun, kondisi laut dapat berubah sehingga pemantauan informasi terbaru tetap diperlukan selama beraktivitas di perairan Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, dan Selat Sape.**