Ia menambahkan bahwa selama ini caci lebih dikenal sebagai pertunjukan orang dewasa yang identik dengan adu ketangkasan.

Melalui workshop ini, katanya, konsep caci dikemas secara edukatif, ramah anak, dan tetap menjaga esensi nilai budaya seperti sportivitas, keberanian, serta penghormatan terhadap tradisi.

Program ini diikuti siswa dari berbagai lembaga pendidikan, antara lain SDN Labuan Bajo 1, KB Kanawa, TK Pembina, SDN Batu Cermin, SD Lancang, SDI Waemata, SDK Familia, KB Bajo Kiddy, hingga SLB Labuan Bajo.

Para peserta didampingi mentor khusus di bidang musik tradisional, tari, serta teknik dasar caci. Jadwal latihan dirancang fleksibel—pagi, siang, atau sore—agar tidak mengganggu aktivitas belajar formal di sekolah.

Pendekatan kolaboratif antara sanggar, sekolah, dan orang tua dinilai menjadi kunci keberhasilan program. Pendidikan karakter berbasis budaya diharapkan berjalan beriringan dengan kurikulum akademik.

Setelah lebih dari dua pekan pelatihan intensif, seluruh peserta akan menampilkan hasil pembelajaran dalam pertunjukan terbuka pada 8 Maret 2026 di Gua Batu Cermin.