Karier militernya ditempa dalam berbagai operasi strategis, antara lain penumpasan PRRI, DI/TII di Aceh, Operasi Trikora pembebasan Irian Barat, penanganan peristiwa Gerakan 30 September 1965, hingga Operasi Seroja di Timor Timur.
Kariernya terus menanjak. Ia pernah menjabat Pangdam IV/Sriwijaya dan Pangdam V/Jaya. Pada 25 Juni 1986, Try diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan setahun kemudian meraih pangkat Jenderal TNI.
Puncak karier militernya diraih saat dipercaya sebagai Panglima ABRI pada 27 Februari 1988, menggantikan L. B. Moerdani. Jabatan tersebut diembannya hingga 18 Februari 1993.
Wakil Presiden di Era Transisi
Dalam Sidang Umum MPR 1993, Try Sutrisno terpilih sebagai Wakil Presiden ke-6 RI mendampingi Presiden Soeharto untuk masa jabatan 1993–1998. Ia menjadi salah satu wakil presiden berlatar belakang militer dengan pengalaman panjang di pucuk pimpinan ABRI.
Menjelang akhir masa jabatannya, Try menyatakan tidak bersedia dicalonkan kembali. Keputusan tersebut ia sampaikan sebagai bagian dari tradisi yang telah dilakukan para wakil presiden sebelumnya, mulai dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX hingga Sudharmono, yang menjabat satu periode. Dalam Sidang Umum MPR 1998, posisinya kemudian digantikan oleh B. J. Habibie.





Tinggalkan Balasan