LABUANBAJOVOICE.COM – Deburan ombak yang memecah pantai dan hembusan angin laut yang dingin menjadi saksi suasana berbeda dalam perayaan malam pergantian tahun di Hotel Meruorah Komodo Labuan Bajo.
Menutup lembaran tahun 2025, hotel berbintang yang menjadi ikon pariwisata Labuan Bajo ini memilih konsep perayaan penuh empati, solidaritas, dan refleksi kebangsaan, tanpa dentuman kembang api yang biasanya identik dengan malam tahun baru.
Perayaan yang digelar pada Rabu malam (31/12/2025) tersebut secara sadar diredam sebagai bentuk kepedulian mendalam terhadap para korban bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Aceh dan berbagai daerah di Sumatra.
Kesedihan nasional itu menjadi dasar lahirnya perayaan tahun baru yang sarat makna dan nilai kemanusiaan.
General Manager Meruorah Komodo Labuan Bajo, Rudy Rudolf Butar Butar, Rabu malam, menjelaskan bahwa keputusan untuk meniadakan kembang api bukanlah bentuk pengurangan makna perayaan, melainkan pergeseran nilai kebahagiaan ke arah yang lebih reflektif dan bermakna.
“Malam ini Meruorah Komodo merayakan pergantian lembaran tahun dengan ketiadaan atraksi kembang api dan ini bukanlah tanda surutnya perayaan, melainkan transformasi bentuk kebahagiaan yang digantikan dengan penyalaan lilin dan lampu didarat dan diudara,” ungkap Rudy.
Ia menegaskan, manajemen hotel secara khusus mengambil inisiatif kontemplatif dalam perayaan tahun ini sebagai bentuk empati kepada sesama anak bangsa yang tengah dilanda duka.
Lebih lanjut Rudy menjelaskan, rangkaian acara diawali dengan doa dari para pemuka agama. Para tamu diajak memasuki momen keheningan yang khidmat, menyalakan lilin sebagai simbol cahaya harapan dan keteguhan hati, serta mengirimkan doa bagi para korban bencana.
“Ini adalah bentuk solidaritas kecil dari Labuan Bajo untuk Indonesia,” tegasnya.
Konsep ini menjadi simbol bahwa duka di satu wilayah adalah duka seluruh bangsa, dan perayaan tidak harus selalu dirayakan dengan kemeriahan, tetapi dapat diwujudkan melalui kepedulian dan doa bersama.
Rangkaian acara malam tahun baru diawali dengan Gala Dinner yang berlangsung khidmat di area Café dan Lobby Meruorah Komodo.
Dalam sesi awal yang menekankan semangat persatuan, manajemen mengajak seluruh tamu mengumandangkan lagu “Indonesia Pusaka”, sebagai penegasan rasa cinta tanah air dan kebersamaan sebagai bangsa.
Momentum kebangsaan tersebut kemudian dilanjutkan dengan Doa Bersama Lintas Agama, menghadirkan pemuka agama dari Islam, Kristen, dan Hindu.
Saat doa dipanjatkan, lampu ruangan diredupkan, dan para tamu menyalakan lilin bersama sebagai simbol cahaya batin dan harapan.
Momen mengheningkan cipta ini diiringi alunan instrumen lagu “Ibu Pertiwi”, menghadirkan suasana emosional yang kuat dan mengirimkan pesan pemulihan bagi negeri, sekaligus menegaskan bahwa penderitaan saudara-saudara di Sumatra adalah luka kolektif bangsa Indonesia.
Usai sesi doa, kehangatan acara makan malam dilanjutkan dengan iringan acoustic band yang membawakan lagu-lagu bernuansa akrab dan kekeluargaan.
Suasana semakin cair dengan adanya games ringan serta apresiasi kepada para tamu melalui pembagian door prize berupa kesempatan menginap di jaringan hotel InJourney Hospitality.
Menjelang detik-detik pergantian tahun, rangkaian acara berpindah ke The Bay Restaurant.
Mengusung konsep hiburan yang sederhana namun berkesan, para tamu disuguhkan penampilan musik, tarian kontemporer, serta atraksi artistik tanpa dentuman kembang api, namun tetap menghadirkan pengalaman yang mendalam.
Acara puncak ditutup dengan countdown menyambut tahun 2026, yang berlangsung penuh rasa syukur, harapan, dan kebersamaan.
Melalui perayaan yang sarat makna ini, Meruorah Komodo Labuan Bajo berharap tahun 2026 menjadi tahun kebangkitan, kedamaian, dan kekuatan bagi Indonesia, khususnya bagi masyarakat yang tengah berjuang memulihkan diri dari bencana alam.
Perayaan ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa sektor pariwisata tidak hanya berbicara tentang hiburan dan kemewahan, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menumbuhkan empati, solidaritas, dan nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.**





Tinggalkan Balasan