LABUANBAJOVOICE.COM – Sebanyak 100 anak usia dini dari 10 sekolah di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terlibat dalam workshop dan atraksi seni tradisional caci.

Program ini mendapat dukungan dari Program Dana Abadi Indonesia dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya sejak usia dini.

Kegiatan tersebut melibatkan peserta dari jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga satu Sekolah Luar Biasa (SLB). Anak-anak yang terlibat berusia antara 4 hingga 7 tahun, dengan komposisi 10 peserta dari masing-masing sekolah.

Inisiator program, Mardaniyanti, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menanamkan kecintaan terhadap kesenian tradisional Manggarai sejak dini, khususnya seni caci yang selama ini identik dengan orang dewasa.

“Program ini kami rancang agar kesenian tradisional, khususnya caci, dipelajari sejak dini. Berkesenian menjadi ruang kreasi tanpa sekat, karena itu siswa SLB juga kami libatkan,” ujarnya, Minggu (22/2).

Sepuluh sekolah yang ambil bagian dalam kegiatan ini meliputi TK Bajo, TK Kanawa, TK Pembina, SD Lancang 1, SD Familia, SD Baru Cermin, SD Waemata, serta satu SLB. Peserta tingkat TK berusia 4–5 tahun, sementara siswa SD berusia 6–7 tahun.

Rangkaian kegiatan diawali dengan workshop di masing-masing sekolah yang dimulai pada 23 Maret. Para mentor dijadwalkan mengunjungi sekolah-sekolah peserta selama tujuh hari untuk memberikan pelatihan.

Sebelumnya, para mentor dan pendamping telah mengikuti pelatihan internal guna menyepakati durasi penampilan serta pola gerakan yang akan diajarkan kepada anak-anak.

Simulasi juga dilakukan untuk memastikan setiap sekolah memiliki durasi penampilan yang seimbang.

Puncak kegiatan direncanakan berlangsung pada 7 Maret di Batu Cermin, Labuan Bajo. Pada agenda tersebut, masing-masing sekolah akan menampilkan hasil workshop, yang kemudian dilanjutkan dengan atraksi kolaborasi gabungan seluruh peserta.

Sebanyak 100 anak dijadwalkan tampil dalam atraksi kolaborasi, terdiri dari 40 pemain caci, 40 penari, dan 20 pemain musik tradisional.

“Ini menjadi saya tarik tersendiri anak-anak usia dini akan tampil bermain caci, tarian dan bermain musik yang selama ini dilakukan oleh orang dewasa,” jelas Mardani.

Menurut Mardani, melibatkan anak usia dini dalam kegiatan seni tradisional memiliki tantangan tersendiri karena memerlukan pendekatan khusus yang sesuai dengan dunia anak-anak.

Namun, tambahnya, langkah tersebut dinilai strategis untuk membangun fondasi kecintaan terhadap budaya lokal sejak awal.

“Memilih anak usia dini memang tidak mudah. Butuh kesabaran dan metode yang disesuaikan dengan dunia anak-anak. Tetapi kami ingin nilai-nilai budaya Manggarai, termasuk caci, musik, dan tarian tradisional, ditanamkan sejak awal sebagai bentuk mempersiapkan generasi mendatang dan memastikan ada penerus budaya,” katanya.

Ia menambahkan, panitia juga tengah mengupayakan kehadiran Direktur Jenderal Kebudayaan pada puncak kegiatan agar dapat menyaksikan langsung penampilan para peserta sebagai bentuk dukungan terhadap regenerasi pelaku seni tradisional Manggarai.**