Petani menyampaikan kondisi kebun dan sawah yang masih dikelola secara tradisional, minimnya pengetahuan pertanian modern, keterbatasan alsintan, serta akses jalan tani yang belum memadai.
Mereka, menurut Kanisius, tidak meminta kemewahan. Petani hanya berharap pendampingan yang serius, teknologi yang terjangkau, dan jalan yang layak agar hasil kebun dan sawah bisa keluar dari kampung dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.
Menurutnya, jika pertanian adalah tulang punggung ekonomi desa, maka negara dan pemerintah daerah memiliki kewajiban memastikan petani tidak berjalan sendiri.
Modernisasi pertanian, tegas Kanisius, tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus hadir sebagai kebijakan nyata yang menyentuh sawah dan kebun.
Suara dari Macang Tanggar menjadi catatan penting bahwa membangun daerah harus dimulai dengan mendengarkan petani dan menguatkan sektor riil, sebagai fondasi ekonomi Manggarai Barat yang berkelanjutan.**

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan