“Di sanalah suara rakyat mengalir jujur, tanpa jarak, tanpa sekat. Di bawah rindang pohon, saya kembali belajar bahwa politik yang paling bermakna adalah mendengar,” ungkap Kanisius.
Dalam dialog terbuka tersebut, warga menyampaikan berbagai persoalan mendasar yang selama ini mereka hadapi.
Jehamat, salah satu warga, berbicara tentang tanah yang setia memberi hasil namun belum sepenuhnya diberdayakan.
Ia tidak menuntut janji besar, hanya pendampingan bagi petani dan akses permodalan agar produktivitas pertanian meningkat.
“Petani butuh pengetahuan,” katanya.
Bukan sekadar tenaga, tetapi keahlian agar sawah dan kebun tidak lagi berjalan sendiri, melainkan ditemani ilmu.
Sementara itu, Pelipus Supandi menyuarakan kebutuhan yang paling mendasar yaitu air minum bersih. Di Desa Pantar, air bukan sekadar kebutuhan, tetapi masih menjadi harapan yang harus diperjuangkan.
Selain air bersih, Pelipus juga menyoroti pentingnya akses jalan menuju Dusun Nangga (Pau) agar hasil pertanian dapat diangkut dengan lancar.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan