Menurutnya, jalan tani yang layak akan memastikan jerih payah petani tidak berhenti di lumpur dan tanjakan.
Ia juga menekankan kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan) agar kerja petani tidak selalu bertumpu pada tenaga manual.
Hal senada ditegaskan Kepala Desa Pantar, Max Suhandi. Menurutnya, air bersih dan alsintan menjadi program prioritas desa bukan karena ambisi, melainkan karena kebutuhan nyata masyarakat.
Reses di bawah pohon rindang itu menjadi ruang refleksi bersama. Kanisius menilai bahwa pembangunan sejati tidak selalu dimulai dari gedung tinggi atau angka besar di atas kertas.
Pembangunan, kata dia, sering lahir dari tanah yang diinjak, air yang dicari, jalan yang ingin dilewati, dan petani yang ingin naik kelas.
Reses ini bukan sekadar mencatat aspirasi, tetapi menjadi pengingat tentang hakikat tugas wakil rakyat menjembatani harapan masyarakat dengan kebijakan publik.
“Karena dari desa, kita belajar arti masa depan,” kata Kanisius.
Reses hari kedua dilanjutkan di Desa Macang Tanggar yang berlangsung pada Minggu (21/12/2025). Di desa ini, Kanisius kembali dihadapkan pada realitas yang sama yaitu petani masih berjuang sendirian.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan