Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pelaksanaan program dan kebutuhan ibadah masyarakat.
Pemerintah, kata dia, tetap membuka ruang diskusi agar seluruh umat dapat menjalankan ibadah dengan nyaman tanpa menghilangkan esensi Jumat Hening.
Program ini, lanjut Endi, lahir dari kesepakatan bersama antara pemerintah daerah, Forkopimda, tokoh agama, dan berbagai elemen masyarakat. Karena itu, keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat.
“Ini bukan instruksi sepihak, tetapi komitmen bersama. Kita ingin membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita semua,” katanya.
Melalui Jumat Hening, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat berharap tercipta suasana yang lebih tenang, penurunan tingkat polusi, serta tumbuhnya kesadaran ekologis yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
Endi menutup pesannya dengan ajakan agar masyarakat tidak melihat program ini sebagai pembatasan, melainkan sebagai langkah kecil yang berdampak besar bagi keberlangsungan lingkungan di Manggarai Barat.**





Tinggalkan Balasan