Komposisi tersebut menegaskan kuatnya minat pasar Eropa, khususnya Jerman, terhadap wisata bahari dan keunikan ekosistem Komodo yang telah mendunia.

“Dominasi wisatawan Eropa menjadi sinyal penting bagi pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kualitas layanan, pemanduan, serta pengelolaan destinasi berkelanjutan,” tambah Charles.

Selama berada di kawasan TNK Labuan Bajo, kapal pesiar ini singgah selama kurang lebih 8–10 jam. Waktu kunjungan tersebut dimanfaatkan wisatawan untuk menjelajah Pulau Komodo dan destinasi sekitarnya dengan pengawasan ketat demi menjaga kelestarian kawasan konservasi.

Kedatangan kapal pesiar berkapasitas besar ini dinilai memberikan dampak ekonomi langsung bagi pelaku usaha lokal – mulai dari pemandu wisata, transportasi laut, hingga UMKM – sekaligus memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai hub wisata kapal pesiar internasional di Indonesia timur.

“Ke depan, kami berharap arus kapal pesiar semakin konsisten. Ini menuntut kesiapan lintas sektor -imigrasi, pelabuhan, pariwisata, dan konservasi- agar manfaat ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan,” pungkas Charles.**