LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum dapat memastikan penyebab kondisi udara berkabut yang teramati di wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk kemungkinan dampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Papua, Maluku, maupun wilayah lainnya.

Stasiun Meteorologi Kelas II Komodo melalui Kepala BMKG Komodo, Maria Patricia Christin Seran, Senin (19/10/2026), menjelaskan bahwa indikasi keberadaan partikel di atmosfer Manggarai Barat telah terdeteksi melalui pemodelan BMKG.

Namun, kata dia, data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kekaburan udara yang terjadi disebabkan oleh kabut asap kebakaran hutan.

“Bisa ya, bisa juga tidak. Karena belum dapat dipastikan apakah kekaburan udara ini merupakan dampak kebakaran hutan di Kalimantan, Papua, Maluku, atau transport partikulat dari wilayah lain,” jelas Maria.

Menurut dia, diperlukan analisis lebih lanjut terhadap pola angin, citra satelit, serta lintasan pergerakan massa udara atau trajectory untuk mengetahui kemungkinan sumber dan jalur perpindahan partikel menuju wilayah Manggarai Barat.

Berdasarkan pemodelan BMKG, wilayah Manggarai Barat terindikasi memiliki konsentrasi partikel halus PM2.5 pada kisaran 10–30 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Selain itu, pemodelan aerosol optical depth (AOD) menunjukkan nilai berkisar 0,1–0,3. Nilai tersebut mengindikasikan keberadaan aerosol di atmosfer sekaligus memberikan gambaran mengenai potensi sebarannya.

Meski demikian, Maria menegaskan bahwa kedua informasi tersebut merupakan hasil pemodelan, bukan hasil pengukuran langsung kualitas udara di permukaan Manggarai Barat.

Perbedaan ini penting dipahami agar masyarakat tidak langsung menyimpulkan bahwa kondisi udara berkabut yang terlihat saat ini merupakan akibat pencemaran asap kebakaran hutan.

Partikel yang berada di atmosfer dapat berasal dari berbagai sumber, mulai dari debu, asap kendaraan bermotor, kebakaran hutan dan lahan, hingga garam laut yang terbawa angin.

Dengan demikian, keberadaan partikulat dalam pemodelan tidak secara otomatis membuktikan adanya pencemaran udara akibat kebakaran hutan.

BMKG juga memantau kondisi angin dan aktivitas titik panas di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Saat ini, angin di wilayah NTT masih didominasi dari arah timur. Sementara itu, pantauan satelit Himawari menunjukkan adanya titik panas di sejumlah wilayah NTT.

Informasi tersebut menjadi bagian dari pemantauan kondisi atmosfer yang dilakukan BMKG. Namun, keberadaan titik panas dan pola angin yang terpantau belum cukup untuk memastikan sumber partikulat yang terindikasi di Manggarai Barat.

Untuk mengetahui apakah partikel tersebut berasal dari kebakaran hutan di wilayah tertentu atau merupakan hasil perpindahan aerosol dari sumber lain, dibutuhkan kajian meteorologis lebih lanjut.

Analisis tersebut mencakup hubungan antara pola angin, citra satelit, dan lintasan pergerakan massa udara. Melalui analisis ini, kemungkinan asal serta jalur transportasi partikulat menuju Manggarai Barat dapat ditelusuri secara lebih terukur.

Di tengah ketidakpastian penyebab kekaburan udara tersebut, masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi BMKG.

Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung, diminta lebih berhati-hati apabila kondisi udara dirasakan mengganggu kesehatan.

Masyarakat juga disarankan menyesuaikan aktivitas di luar ruangan dengan kondisi yang dirasakan, terutama apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.

BMKG menekankan bahwa untuk mengetahui kondisi kualitas udara yang sebenarnya di permukaan, diperlukan pengukuran langsung.

Data pemodelan atmosfer dapat menjadi petunjuk awal, tetapi tidak dapat menggantikan hasil pengukuran kualitas udara di lokasi.

Hingga analisis lebih lanjut tersedia, penyebab pasti kekaburan udara di Manggarai Barat masih belum dapat dipastikan.

Karena itu, dugaan keterkaitan dengan kebakaran hutan di Kalimantan, Papua, Maluku, maupun wilayah lainnya perlu ditempatkan sebagai kemungkinan yang masih membutuhkan pembuktian ilmiah.

Kejelasan mengenai sumber partikulat menjadi penting agar informasi yang diterima masyarakat tetap akurat, tidak memicu kekhawatiran berlebihan, serta menjadi dasar bagi langkah antisipasi yang tepat.**