LABUANBAJOVOICE.COM – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Manggarai Barat pada tahun 2025 tercatat mencapai 7,96 persen, tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski demikian, capaian tersebut dinilai belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan sebagian besar masyarakat.

Kondisi ini mendorong pentingnya sinergi lintas sektor, termasuk dengan gereja dan lembaga keagamaan, sebagai bagian dari upaya memperkecil kesenjangan ekonomi.

Fakta tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, dalam pidatonya pada Penutupan Sidang Pastoral, Puncak Natal 2025 Keuskupan Labuan Bajo, sekaligus peringatan HUT ke-40 Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Youth Centre Labuan Bajo, Jumat (9/1/2026), dengan dihadiri unsur gereja, tokoh umat, dan masyarakat.

Bupati Endi mengungkapkan optimisme terhadap kinerja ekonomi daerah, namun sekaligus menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi pemerintah daerah.

“Angka pertumbuhan hampir 8 persen ini ternyata faktor terbesarnya disumbangkan oleh sektor sekunder. Sayangnya, fakta itu tidak memberikan efek yang luar biasa untuk rakyat di kabupaten ini,” ujarnya.

Bupati menjelaskan, meskipun 79,82 persen profesi masyarakat Manggarai Barat adalah petani, sektor primer seperti pertanian dan peternakan justru belum memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Lebih lanjut, ia katakan, ketimpangan antara struktur ekonomi dan mata pencaharian mayoritas masyarakat inilah yang dinilai menjadi penyebab belum meratanya kesejahteraan.

Menurutnya, selama sektor primer belum menjadi penggerak utama pertumbuhan, maka dampak ekonomi akan cenderung terkonsentrasi dan tidak menyentuh sebagian besar masyarakat pedesaan.

Dalam konteks tersebut, Bupati Endi menekankan pentingnya membangun sinergi dengan seluruh komponen masyarakat, termasuk lembaga keagamaan.

Ia secara khusus menaruh harapan besar pada peran gereja yang dinilai memiliki kedekatan langsung dengan umat yang juga merupakan rakyat Manggarai Barat.

“Kami mengajak, mari mengisi apa yang menjadi kekurangan pemerintah. Jangan biarkan kami ada kekurangan, mohon kami disuburkan dan diingatkan,” kata Bupati.

Ia menambahkan, para imam, suster, bruder, dan frater berada di garis depan kehidupan umat dan memahami secara langsung kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Karena itu, kata dia, kolaborasi dengan gereja dinilai strategis untuk menjangkau lapisan masyarakat terbawah secara efektif.

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mendorong implementasi program Strategi Pangan (MBG) yang digalakkan oleh pemerintah pusat.

Bupati berharap para pemimpin umat dapat berperan aktif dalam mengedukasi dan meyakinkan masyarakat agar terlibat langsung dalam program tersebut, seperti dengan menanam sayur-sayuran dan buah-buahan.

“Jangan sampai seluruh bahan baku dari MBG itu kita dapatkan dari luar,” tegasnya.

Ia juga memastikan bahwa pemerintah daerah akan memfasilitasi pemasaran dan penyerapan hasil pertanian masyarakat melalui dapur-dapur MBG yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten, dengan skema pembayaran langsung kepada petani.

Meski tantangan masih besar, Bupati Edi menyatakan optimisme terhadap masa depan ekonomi Manggarai Barat.

Ia meyakini, jika terjadi kolaborasi yang erat antara pemerintah, gereja, dan masyarakat, maka pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun-tahun mendatang berpeluang mencapai dua digit.

“Karena sektor primer yang dominansinya itu pertanian, peternakan, belum memberikan kontribusi yang signifikan. Tahun 2026 ini adalah tahun sinergi,” serunya.

Bupati berharap semangat Natal dan Tahun Baru dapat membawa kemajuan yang nyata dan kebahagiaan bagi seluruh rakyat Manggarai Barat.

Kegiatan bernuansa pastoral tersebut pun menjadi ruang penting untuk menyatukan visi antara kepemimpinan daerah dan agama dalam membangun kesejahteraan masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.***