Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengelola homestay, perajin tenun ikat, penyedia kuliner lokal, dan pemandu wisata berpotensi memperoleh manfaat apabila kebutuhan wisatawan dapat dipenuhi oleh usaha masyarakat setempat.

Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, menjelaskan bahwa gagasan tersebut terinspirasi dari Camino de Santiago de Compostela di Spanyol, jalur ziarah bersejarah yang berkembang menjadi pengalaman perjalanan spiritual dan budaya.

“Melalui konsep yang kita kembangkan, yaitu wisata berjalan kaki melewati berbagai keindahan alam, budaya, dan situs-situs religi, diharapkan memberikan pengalaman (experience) yang berbeda dan lebih mendalam.” ujar Mari Elka.

Ia berharap wisatawan tinggal lebih lama dan tentu perputaran ekonomi terjadi langsung di desa-desa yang dilalui. Inilah pariwisata yang inklusif, yang berbasis masyarakat, dan yang berkelanjutan.

Harapan tersebut menempatkan lama tinggal wisatawan dan keterlibatan usaha lokal sebagai aspek penting dalam pengembangan destinasi.